HEAVEN’S [L]ADDER

Ini unik. Kalau mau bandingin sih kayak kereta api aja. Kereta api eksekutif. Pernah naik kereta api eksekutif? Ya nggak beda jauh sih sama kereta ekonomi/bisnis di era 2011 keatas. Tapi kalau pernah naik kereta ekonomi pra-Jonan (sebelum 2011), lalu bandingin sama eksekutif, ya jauh banget.

Trus hubungannga sama ini gunung apaan? Ya baca dulu sampe abis ya. Gak lama kok. Hehe…

Perjalanan Tim [MOUNT] dimulai dari Solo ya. Paling gampang dari sini. Lalu lanjut ke Tawangmangu. Tinggal naik bus. Trus kalau udah sampai Tawangmang, lanjut aja naik colt. Bilang aja mau naik Gunung Lawu. Sudah? Oke lanjut lagi.

Ternyata, jalur dari Tawangmangu menuju Cemoro Sewu sangat ekstrim. Menanjak luar biasa. Angkot yang kami tumpangi bau kopling setiap menemui tanjakan. Untung saja tidak sampai mogok.

“Naik lewat Cemoro Sewu dek? Emang lebih enak lewat situ. Lebih dekat,” ujar supir angkot membuka pembicaraan.

“Bedanya apa?”

“Kalau lewat Cemoro Sewu itu sekitar 6km. Kalau Cemoro Kandang 9km.”

Saya pikir, perbedaan jarak itu karena perbedaan ketinggian pos awal pendakian. Saya kaget begitu tahu kedua pos itu hampir bersebelahan. Ketinggiannya sama, sekitar 1600 mdpl. Yang memisahkan kedua pos itu hanya sebuah lembahan. Dan ternyata, lembahan yang bersungai itu, adalah batas provinsi. Jadi Cemoro Sewu ada di Jawa Timur, Cemoro Kandang di Jawa Tengah. Batas antar kedua pos tersebut, ah paling tidak sampai 500 meter.

CMS

Keadaan jalur juga sebenarnya cukup sulit. Dari ketinggian 1600an di Cemoro Sewu menuju puncak di ketinggian 3265mdpl hanya kurang dari 6 kilometer. Berarti buas sekali kan elevasinya. Tambah lagi, jalurnya batu. Memang batunya rata. Tentara yang membuat jalurnya, jadi seperti undak-undakan. Tapi ya namanya tentara yang buat asal saja menaruh batunya. Kadang jarak antar undakan ada yang dekat, ada juga yang jauh, hingga dengkul ketemu jidat.

Selepas pos satu, vegetasi mulai terbuka. Akibat kebakaran beberapa saat yang lalu. Bulan terang menyinari. Ya emang enaknya mendaki Lawu malem-malem. Keadaan bulan memang sudah tidak purnama, tapi masih lonjong. Terangnya cukup untuk menerangi keadaan jalur yang terus menanjak. Ibarat tangga menuju bulan saja.

Pos satu ke pos dua, masih begitulah. Tapi lewat dari Pos 3 yang ditandai shelter kecil (setiap pos di Lawu memiliki Shelter), jalur semakin menggila. Ya masih tangga, namun didominasi dengan undakan dengkul ketemu jidat.

Naik gunung mana yang enggak berat? Yaiyalah… Tapi selewat Pos 4, jalurnya udah oke. Landai tanpa ada tanjakan sama sekali. Pos tanpa shelter, atau shelternya sudah rubuh dijadikan api unggun. Saya melihat jauh ke belakang. Kondisi jalur yang terbentang terlihat jelas disinari rembulan. Gila juga elevasinya kalau sudah diatas. Keliatan jalur yang sebelumnya kami lewati. Mengular terjal.

Pemandangan di hadapan saya tidak kalah memukau. Sebuah jalan setapak. Datar. Kanannya lereng gunung yang curam. Di kiri ada punggungan yang membentang. Ibarat benteng yang bermandikan cahaya rembulan. Saya masih belum tahu. Puncak itu dimana. Apakah di benteng itu, atau di depan lagi.

Angin terasa sangat kencang. Dinginnya luar biasa. Pepohonan tidak ada. Kalau siang, pasti luar biasa teriknya. Namun karena kami jalan malam, ya nikmati saja dingin itu.

Pukul setengah tiga pagi, saya ingat sekali. Ada shelter. Pos 5 Sendang Drajat. Yang membuat saya kaget, itu bukan shelter . Tapi warung. Warung macam apa di ketinggian 3000 meter? Barangkali Dzaki, sang Tourmaster, hanya bercanda.

“Ini Warung, shelter yang itu!” ujar Dzaki menunjuk sebuah bangunan yang karena gelap, saya baru sadar ada bangunan lain. Besarnya melebihi bangunan warung. Kira-kira 5×10 meter.

“Kita nginep disana aja! Kosong!” ujar Bachtiar yang sudah melihat keadaan shelter.

“Jadi gak usah buka tenda nih Jek?”

“Gak usah.”

“Trus kenapa gw bawa tenda?”

“Safety procedure.”

Ohm. Ok.

Setelah bersusah payah berusaha untuk tidur sambil gemetaran menahan dingin, akhirnya saya terlelap juga di shelter yang beralaskan jerami dan terpal itu.

heaven

Lalu uniknya Lawu, begini nih… Dalam klasifikasi kereta api, setiap kereta api yang memiliki embel-embel Argo di depannya adalah kasta tertinggi. Argo Lawu salah satunya. Cepat sampai tujuan, full AC, tidak perlu berdesak-desakan, dan penuh fasilitas berkelas.

Saya tidak tahu apakah Direktur PT.KAI pernah naik Gunung Lawu.

Trus kenapa tiba-tiba saya berbicara tentang Kereta Api. Kamu mabuk ya? Enggak, ada persamaan yang saya temukan dari kedua Lawu tersebut. (monolog).

Begini, soal cepat sampai tujuan, Gunung Lawu, barangkali tidak sampai empat jam sudah sampai puncak kalau tidak pakai acara kram dan guling-guling koprol. Dari Sendang Drajat, tempat kami menginap, ke puncak Hargo Dumilah 3265 hanya sekitar 10-15 menit.

puncak

Soal Full AC. Lawu saat itu, adalah tempat dimana saya merasa dingin yang amat sangat. Tidak ada angin saja sudah menggigil. Begitu angin berhembus, seperti ditinju tyson dengan glove penuh es batu.

Tidak perlu berdesak-desakan, ya jelas. Kami berjalan di jalur yang sudah sangat tertata baik. Alas batunya lebar. Tiga orang bisa saja berjalan beriringan sambil bergandengan tangan dan bernyanyi Sepanjang  Jalan Kenangan. Itupun kalau mau. Tapi kapan-kapan boleh juga dicoba.

route

Penuh fasilitas berkelas? Memangnya ada apa sih di puncak gunung? Batu? Kawah? Singkirkan itu sejenak kalau naik ke Lawu. Disini ada warung. Nasi, mie, dan segala makanan ringan ada. Soal tidur nyaman tanpa tenda, silakan masuk ke shelter. Dan yang paling penting, hanya Gunung Lawu dimana saya bisa menemukan kamar mandi yang lengkap ada WC Jongkoknya. Stok air pun melimpah dari Sendang Drajat. Tidak perlu repot cebok pakai tisu basah. Ember dan gayung sudah tersedia.

warungers

Bagaimana? Sangat Classy bukan?

Beberapa ratus meter di Utara Sendang Drajat, ada daerah yang dinamakan Hargo Dalem. Disini, seperti kompleks warung saja. Dan setiap pendaki bisa minta izin untuk menginap. Makanan terjamin. Udara dingin tidak terasa.

Kenapa Lawu sangat Classy penuh fasilitas seperti ini?

Jawabannya adalaaah, *jreng jreng*, Karena gunung ini dianggap Keramat. Tempat Prabu Brawijaya V moksa dalam pelariannya dari kejaran Kerajaan Demak. Sejarahnya yang saya tangkap seperti ini. Sang Prabu terakhir Mahapahit itu melarikan diri karena tidak mau masuk Islam. Ditambah lagi, Raden Patah dari Kerajaan Demak itu adalah anaknya sendiri. Ia tidak mau bertempur dengan anaknya, dan memilih mengasingkan diri di Gunung Lawu. Tapi Raden Patah bersikeras ingin ayahnya masuk Islam, jadilah Sang Prabu dikejar-kejar terus.

Disini ada pula pihak lain yang mengejar Prabu Brawijaya, yaitu Adipati Cepu. Berbeda dengan niat Raden Patah yang hanya ingin mengislamkan ayahnya, Adipati Cepu menaruh dendam kepada sang Prabu karena kerajaannya memang bermusuhan dengan Mahapahit. Jadilah, Prabu Brawijaya tidak bisa tenang. Padahal anaknya sendiri sudah menyerah dan tidak mengejarnya lagi.

“KAPAN GW TENANGNYA KALO GINI! OI ADIPATI CEPU! GW KUTUK KETURUNAN LO GAK BOLEH MASUK GUNUNG INI!” begitu kesalnya Sang Prabu hingga mengerahkan kesaktiannya.

Alhasil, hingga saat ini, mitosnya ya, kalau keturunan Cepu naik Lawu, pasti dilarang oleh warga setempat. Daripada ada kenapa-kenapa, mencegah lebih baik dari mengobati. Saya tidak tahu juga, apakah efek kutukan ini juga sampai di Kereta Api Argo Lawu. Setahu saya, penjual tiket di stasiun tak pernah bertanya,

“Kamu keturunan Cepu?! Tidak boleh naik Argo Lawu!”

Begitulah ceritanya. Akhirnya Prabu Terakhir Kerajaan Majapahit itu moksa di tempat yang dinamakan Hargo Dalem sekarang.

Hingga saat ini begitu sakralnya Hargo Dalem, setiap 1 Suro, keluarga dari Keraton Solo selalu menyempatkan datang. Begitu juga dengan rakyat Solo dan sekitarnya. Hanya ditanggal itulah Gunung Lawu terlihat sangat ramai ibarat kereta api ekonomi. Bahkan ada tukang sate, tukang bakso, tukang somay, dan berbagai macam pedagang kaki lima tumpah ruah di sepanjang jalur hingga Hargo Dalem.

sunrise

Kembali ke kisah saya. Ya oke, tadi intermezzo aja, sekalian ngejelasin soal kereta api. Udah paham lah ya. Sip. Oke. Lanjut.

Akhirnya melihat semburat jingga di luar shelter. Pas betul kami keluar saat Sunrise. Ditambah lagi pemandangan ke arah Timur tidak terhalang apapun. Langit cerah. Sekali-kali gumpalan awan seperti api yang melayang-layang lembut di udara. Seperti gulali rasa jeruk merek koala itu. Sayang sudah tidak ada lagi di warung. Padahal enak.

Berhubung  terang,  areal Sendang Drajat bisa terlihat seluruhnya. Waktu malam, kami tidak bisa melihat apa-apa. Kami tahu hanya ada warung, dan shelter. Ketika pagi, saya baru tahu lagi, kalau disitu ada WC umum.

Pukul setengah tujuh, sang pemilik warung membuka pintu warungnya. Tanpa banyak basa basi kami serbu. Untuk sarapan, cukup teh hangat dan mie instan. Easyyy… easyyyy…

Matahari sudah semakin meninggi. Semburat jingganya berubah menjadi keemasan. Mulai terik. Saya tak peduli. Matras kami gelar di depan warung. Kami duduk-duduk sambil sarapan, ngopi, dan berbagai macam snack dikeluarkan. Pagi itu kami habiskan dengan leha-leha. Senang rasanya menikmati hari di ketinggian seperti ini.

ngopi

Saya penasaran, warung di ketinggian ini jualannya apa sih. Saya shock juga melihat stok berkrat-krat teh botol, coca cola, dan fanta. Itu bawa naiknya gimana?  Yang menjaga warung, hanya sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi. Kalau memang mereka sendiri yang membawa perbekalan tersebut, barangkali mereka bisa satu jam naik dari Cemoro Sewu jika tidak membawa beban apa-apa.

Langit semakin terang. Matahari semakin panas. Tak mungkin kami menghabiskan seharian di Sendang Drajat saja. Target utamanya kan puncak gunung, lalu pulang dengan selamat sampai ke rumah.

Akan tetapi… Kalau sudah sampai Sendang Drajat / Hargo Dalem itu ibarat sudah sampai Puncak. Ya memang kenyataannya begitu. Tidak sampai lima belas menit kami sudah sampai di puncak. Tahu-tahu tugu Selamat Datang di Hargo Dumilah, 3265 mdpl. Tidak ada klimaks seperti gundukan pasir Semeru, Tanjakan Rante Gunung Gede, atau Jalur Gua Walet Ciremai. Jalan setapak saja.

last

Lalu turunnya tinggal pilih. Balik lagi lewat Cemoro Sewu yang berarti lewat Sendang Drajat dan bisa mampir lagi ke warung, atau lewat jalur Cemoro Kandang. Nah sebenernya jalur Cemoro Kandang ini lebih kerasa naik (atau turun) gunungnya?

Why? Ya jalur inilah yang bener-bener masuk hutan. Jalurnya lebih jauh memang kalo dibanding Cemoro Sewu. Kenapa? Soalnya lebih landai. Alkisah dulu orang-orang keraton dari Solo yang ingin ke Hargo Dumilah, biasanya menggunakan jalur Cemoro Kandang ini. Naik kuda. So dipastiin enggak ada jalur dengkul ketemu jidat. Gimana kudanya bisa lewat nanti?

Cuman karena landainya itu, jalur akan terasa berputar-putar. Mirip seperti jalur Cibodas di Gunung Gede. Tapi enggak sampe kayak jalur Baderan Argopuro. Itu sih saking landainya, naek motor aja bisa (spoiler).

Waktu itu sih Tim [MOUNT] naiknya lewat Cemoro Sewu, turunnya lewat Cemoro Kandang. Santai aja jalannya. Dari puncak sekitar pukul 12 siang. Sampe pos Cemoro Kandang pukul setengah empat sore. Cepet itu. Soalnya pake acara tidur siang di shelter. Ngantuk lah, semalem udah begadang?

Jadi kapan mau ke Lawu? Asal jangan pas 1 Suro aja. Macet!

LAWU

Iklan

Satu pemikiran pada “HEAVEN’S [L]ADDER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s