[C]ALL OF THE WILD

“Every ascent i made, has a beginning…”

Gelap gulita. Ini pertama kalinya saya menghabiskan malam di ketinggian. Tidak tahu berapa, pasti sudah di atas 1000 meter diatas permukaan laut. Jauh sekali dari rumah. Bintang bertaburan. Suara angin berdesir menggesek pepohonan. Damai sekali. Dingin. Menusuk tulang. Tapi masalahnya bukan dinginnya itu. Saya memandang dengan nanar dengkul saya. Otot paha ini tertarik ke bawah. Jangankan menekuk lutut, meluruskannya saja saya sudah gemetar dengan hebat. Keringat bercucuran.

“Loe Keram…,” ujar Farid.

Burung hantu berkikik pelan. Sementara saya masih meringis menahan sakit.

note: hanya ada dua. ya, dua foto buat tulisan ini.  karena rol filmnya udah ilang entah kemana. belum era digital coy waktu itu.

Oke?

Now just read, and savor it.

Dusun Palutungan berada di ketinggian 1.227 mdpl. Ini adalah dusun terakhir di rute selatan pendakian Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Saat itu Mei 2004. Kelas tiga SMA sedang melakukan ujian nasional. Saya yang saat itu masih kelas satu SMA, tentunya libur. Libur ini saya pergunakan untuk mendaki gunung. Musababnya, saya sebagai anggota muda Platalam SMA Negeri 34, tentulah ingin menjadi anggota biasa, mendapatkan slayer, dan Nomor Registrasi Pokok. Caranya mudah. Mendaki gunung berketinggian minimal 3000 meter. Ciremai, 3078 meter. Gunung tertinggi di Jawa Barat. Tentunya lolos kriteria.

Setelah menempuh perjalanan 7 jam dari Jakarta menggunakan mobil kijang milik Kopral (bukan tentara, tapi ia memang dipanggil seperti itu), kami sampai di Pos Awal Pendakian Gunung Ciremai. Sekitar pukul lima sore, sampailah kami ke dusun kecil ini. Pemandangan yang terhampar, kebun sayur. Sawi, kol, wortel, tomat, kentang, tetapi tidak ada jengkol. Yang melakukan pendakian ada saya, Lukman, Farid, Iis, Heri, dan Iman sebagai anggota muda angkatan 21. Pembimbing ada Iqbal, Ilham, dan Eddu dari angkatan 20. Lalu ada juga Kopral dan Muhar, pembimbing dari angkatan The Old Star. Sebut saja begitu.

Sesampainya disana, saya melakukan registrasi di basecamp. Sudah lupa berapa biayanya. Kalau tidak salah Rp.3000. Sekarang gunung ini sudah naik level menjadi Taman Nasional Gunung Ciremai. Tentunya biayanya sudah berbeda. Nah setelah melakukan registrasi ini.Saya dan kawan kawan melengkapi perbekalan yang kurang.

“Minimal satu orang lima liter air,” Kopral mewanti-wanti.

Maka dimulailah packing ulang. Tiga botol air mineral 1,5 liter harus masuk ke dalam carrier tiap orang. Itu minimal. Iqbal saja membawa jerry can berisi lima liter air. Yang lain selebihnya sama. Kalau tidak muat. Ya harus muat. Carrier Avtech 60L type Log saya sampai diobrak abrik total oleh Iqbal untuk dipacking ulang. Buruk sekali lmu packing saya saat itu. Sekarang, sepertinya sudah mendingan. Dzaki Imaduddin sang Raja Packing dari Logisteam tidak pernah protes soal packingan saya. Kalau saat itu dia ada, mungkin dia sudah tertawa terguling-guling melihat carrier saya yang berbentuk seperti ulat keket terserang tumor. Meletot-meletot tidak jelas.

 

Carry On… My Wayward Son…

Saya masih ingat sekali. Pukul 19.15 yang tertera di arloji saya teringat kuat di benak ini. Selepas azan Isya berkumandang, kami mulai mendaki. Tanah liat yang licin menjadi menu pembuka. Meski gelap, saya tahu kalau trek yang kami lalui masih berupa perladangan. Sepertinya tadi hujan, sehingga seringkali sepatu saya terpeleset oleh lumpur. Baru sekitar 15 menit berjalan, paru-paru saya sudah kehilangan kemampuannya untuk menyerap oksigen sesuai VO2max-nya. Cairan garam mulai menetes dari dahi, membasahi jalur ladang tersebut. Kalau ada kentang dari ladang tersebut yang menjadi asin rasanya, saya ngaku, saya yang salah.

“Matiin semua senter. Liat keatas…”

Saya lupa siapa yang berkata. Saat itu kami sedang beristirahat setelah satu jam melewati perladangan. Seketika suasana gelap total. Namun diatas kepala kami. Jutaan ketombe berkilauan diatas kain hitam yang dibentangkan Sang Maha Kuasa. Suasana yang benar-benar diatas normal. Terutama saat itu ketika saya ibarat nubitol di kaskus. Pengalaman pertama, menikmati indahnya suasana pegunungan. Rasanya leher ini tidak mau berhenti mendongak.

“Jalan lagi. Ayo siap-siap,” ujar suara itu lagi.

Maka suara brak-bruk carrier yang diselempangkan mulai menodai tenangnya kaki Gunung Ciremai. Kilatan cahaya senter mulai diarahkan ke jalur kami. Maju terus ke depan. Masuk hutan. Dari aromanya, sepertinya kami masuk ke hutan konifer. Jalurnya mulai tanah setapak, bukan tanah liat seperti ladang sebelumnya. Tentunya tetap menanjak konstan.

“Lo ngapain sih disini?” Suara itu berkata dalam kepala saya.

“Nyusahin diri aja. Capek-capek kemari. Liat tu lu dah ngos-ngosan gitu. Emang masih bisa napas?” Lanjut suara itu.

Ia benar. Napas saya sudah mau habis lagi, padahal saya baru saja berjalan sekitar 10 menit semenjak tempat istirahat lagi.

“Pulang aja. Mumpung belum jauh,” ujarnya. Saya tersentak. Ini suara hati saya yang berbicara.

“Turun. Di rumah jam segini elo lagi santai. Ngapain disini? Jangankan jalan, napas aja elo udah kek gitu. Disini bukan tempatlu. Tempatlu, di rumah!” kali ini suaranya semakin tegas di dalam kepala pemuda berusia 16 tahun yang benar-benar sudah hancur lebur fisiknya.

“BRENGSEK! GW UDAH JAUH-JAUH KEMARI!” pikiran sadar saya menyentak suara tersebut. Meskipun tidak dapat dipungkiri, saat itu saya benar-benar ingin pulang. Namun ketika memandang kawan-kawan saya yang terus maju, saya berusaha kuat. Meskipun saya tahu, atau sok tahu, mereka juga sama-sama lelah. Namun mereka terus melangkah mantap. Meskipun terkadang saya juga mendengar langkah kaki mereka sedikit terseok gontai.

“Stop dulu. Istirahat dulu,” ujar Kopral.

“Kemana pral?”, ujar Iqbal ketika melihat Kopral melepas carriernya, kemudian mengeluarkan golok. Saya sudah berharap, kami akan memulai mendirikan tenda disini ketika Kopral berkata dengan tenang. Saya juga masih mengingat nada sedikit riang dari mulutnya.

“Panggilan alam…”

Suasana langsung menjadi tenang setelah Kopral berkerosak-kerosak membabat semak yang menghadang jalannya untuk melampiaskan hasratnya. Seperti biasa, lampu senter dimatikan. Kami mulai memandangi ketombe-ketombe yang nampaknya terlihat semakin banyak. Baguslah. Tak perlu kau keramas.

“Hihihiiiiik… hihihiiik…”

Suara burung malam yang aneh. Seperti menertawakan saya yang sudah hancur lebur fisiknya.

“Hiiikikikik hiiikkikikikik…”

Suara itu semakin jelas. Kalau siang, pasti sudah keliatan burung macam apa yang suaranya seperti itu.

“Hiiiiikhikhikhik…. hiiiikhikhikhik…”

Semakin berkikik, suaranya semakin jelas. Sepertinya makin dekat. Sepertinya burung hantu. Burung yang kerjaannya begadang malam-malam hanya burung hantu, atau burung yang sedang ada urusan. Pastilah ukurannya besar, sebab suaranya jelas sekali. Tetapi kalau saya ingat-ingat, suara burung hantu mestinya “uhu-uhu!” Seperti merek lem kertas itu. Pikir saya, biar saja lah, barangkali burung hantu ini jenis lain.

Namun suara tersebut tiba-tiba hilang. Tanpa ada kelebat kepakan. Tanpa ada suara ranting yang bergoyang. Keadaan tiba-tiba langsung hening seketika. Kawan-kawan saya mulai berguman-guman. Saya tidak bisa mendengar gumaman mereka sebab berada tidak cukup dekat dengan mereka. Namun saya selintas mendengar lirih, mereka berbisik.

“Kunti.”

***

KRSSAKKK KRRSAK!!! Tiba-tiba Kopral menyembur keluar dari semak-semak.

“Ayo jalan lagi!”

Saat itu sudah pukul sembilan malam. Trek tetap menanjak. Tiba-tiba Iman minta stop. Ia memanggil Farid, medic perjalanan. Iman langsung terduduk. Lelah sudah pasti. Tapi kemudian ia mulai mengelus-elus kakinya yang bermasalah.

Iman, kawan saya itu, berpostur kerempeng seperti tiang listrik. Suka dipanggil gurita sebab suka bergoyang-goyang ibarat gurita kalau sedang riang. Kawan saya yang sangat akrab ketika saat itu, sebab saya dan Farid rebutan untuk nebeng bareng dia ketika pulang sekolah naik Satria korekannya. Alasannnya, biarlah saya mengutip kata-kata dari iklan.

“Bebeeeb… HEMAT!”

Ketika saya menghampirinya, keadaanya nelangsa sekali. Di kakinya yang seharusnya mulus ibarat tusuk gigi yang lurus, tiba-tiba muncul benjolan.

“Ini sih bukan kram… Kenapa man?” tanya Kopral.

Ia hanya menggeleng. Dari matanya, sepertinya ia sendiri kaget mengapa tiba-tiba muncul benjolan sebesar setengah telur ayam.

“Masih bisa jalan? Tukar dulu carriernya,” ujar Muhar seraya melepas carriernya. Carrier Muhar memang terlihat lebih kecil dari milik kami-kami.

Setelah dioleskan salonpas sekenanya. Iman sudah mampu berdiri lagi. Meski jalannya masih belum normal.

“Udah gapapa, ayo lanjut lagi,” ujarnya.

Maka kami mulai berjalan kembali menembus hutan yang pekat. Seraya bertanya-tanya, kapan perjalanan hari ini bisa tuntas. Kapan kami sampai ke Pos Dua, tempat kami rencana menginap.

GEDUBRAK! Saya tiba-tiba limbung kehilangan keseimbangan dan masuk ke semak-semak di sisi jalur. Otot kaki ini terasa keras. Mengejang. Saya meringis tertahan. Dengan segenap tenaga, saya memanggil Farid yang berjalan di depan.

“RID! MEDIC!”

Farid tergopoh-gopoh menghampiri saya sambil membuka tas p3k-nya kembali.

“Loe keram!” ujar Farid. “Lurusin kaki loe.”

Saat itu saya sudah berusaha untuk tidak meluruskan kaki saya. Menggerakkan sedikit otot saja sakitnya minta ampun. Namun Farid terus berusaha meluruskan kaki saya. Dan ketika kaki ini berhasil lurus, rasa sakitnya semakin menjadi. Rasanya otot paha ini mengunci lutut sehingga kaki ini tidak bisa ditekuk lagi.

“Kurang pemanasan ini,” ujar Kopral.

“Pral, kalo ada tanah lapang nge-camp aja,” saya berujar sembaril menahan sakit.

“Sebentar lagi Pos Dua. Kuatin dulu,” lanjutnya.

Pukul sepuluh malam. Kondisi fisik saya sudah lemah. Yang lain, entahlah, mungkin sama capeknya. Namun saya tahu, yang menjadi beban adalah saya dan Iman. Dari gaya berjalannya saja sudah seperti zombie yang kakinya menyeret-nyeret tanah. Tapi kami semua, tetap memaksakan untuk berjalan.

“Ya sudah, kita ngecamp disini aja,” ujar Kopral setelah setengah jam berjalan dari tempat saya terguling tadi. “Bongkar carriernya. Jangan bikin tenda di jalur. Babat aja dulu semak-semaknya.” Sebuah pilihan yang terpaksa. Tak ada pos, bonus pun jadi. Apalagi tanahnya cukup luas. Bisa memuat tiga tenda.

Meski kelelahan, kami bertindak cepat. Karena kami semua sudah lelah, tetapi masa iya tidur tanpa perlindungan. Dalam tempo waktu setengah jam tenda-tenda sudah selesai didirikan. Lanjut ke acara masak-memasak, membantu seorang Srikandi yang memang hanya seorang saja dalam perjalanan ini. Dilanjutkan dengan makan malam yang entah apa menunya, tetapi terasa sangat nikmat. Kami mulai merapat ke tenda masing-masing setelah acara makan-makan selesai.

“We call it a day…

 

The Stunner Carrier

Matahari sudah terang ketika saya keluar dari tenda. Berapa yang sudah bangun sudah berada di depan kompor. Memasak air. Lalu memasak sarapan.

“Bangunnya kesiangan, tadi pagi tukang bubur udah lewat.”

Saat itu cuaca cerah. Arloji masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Meski matahari masih terhalang gunung, tetapi langit sudah terlihat terang. Untuk menghilangkan rasa dingin, kami segera bergerak. Memasak, membersihkan piring, bahkan hal-hal yang kurang berguna seperti memanjat pohon atau sekedar berputar-putar di sekeliling tenda.

Kurang lebih pukul sembilan, tenda sudah kami packing. Tenaga terasa terisi kembali setelah tidur dan sarapan. Kopral mewanti saya dan Iman yang terlihat letoy pada perjalanan semalam untuk melakukan pemanasan dengan baik. Jangan sampai saya kena stun lagi diatas.

Setelah berdoa dan pemanasan, kami mulai bergerak. Medannya sudah mulai hutan rimba dengan vegetasi yang cukup padat. Golok mulai disabet-sabet ke semak yang mengganggu. Baru sepuluh menit berjalan, tim mulai ngedumel ketika melewati sebuah dataran yang cukup luas.

”Anjrit! Coba semalem gerak dikit lagi!”

Ternyata kami sampai di Pos 2 Cigowong. Sebuah dataran yang cukup luas, mungkin sebesar setengah lapangan bola. Tempatnya sangat enak dipakai ngecamp. Ditambah lagi, ada sebuah sungai yang cukup jernih disana. Setidaknya, kami tidak perlu khawatir soal air jika ngecamp disini.

”Isi aernya sampe penuh lagi, sampe atas ga ada sumber air lagi,” ujar Kopral. Dari seluruh tim, Kopral memang orang yang paling mengerti medan. Wajar, ia merupakan putera asli Kuningan. Sudah berkali-kali ia naik Ciremai.

Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, setelah mengisi air, kami langsung mendaki kembali. Kali ini tanjakannya mulai brutal. Terus mendaki hingga kami sampai di Pos Kuta. Kaki saya mulai terasa stun disini.

Selepas Kuta, tanjakan masih brutal dan bertubi-tubi. Sampai di Pos Pangguyangan Badak, kaki saya mulai kumat, tetapi belum stun. Untuk pencegahan, saya minta Counterpain dari Farid.

”Jangan lama-lama disini,” ujar Kopral sambil memandang sebuah shelter yang terbengkalai di Pos Pangguyangan Badak.  ”Disini tempat evakuasi korban kalo nge-SAR-nya kemalaman. Biasanya diinepin disitu,” jelasnya.

Saya berpikir, memangnya kenapa kalau diinapkan disitu. Tak lama kemudian saya ngeh. Yang dimaksud korban oleh Kopral adalah ”jenazah”. Seketika saya menjauh dari shelter. Merinding juga.

Akibat tanjakan brutal yang bertubi-tubi semenjak kami meninggalkan pos Pangguyangan Badak, akhirnya pertahanan saya jebol juga. Saya terguling ketika hendak naik ke sebuah batu. Paha kanan saya mengunci.

”Medic!”

Farid yang sudah berada di depan seketika balik lagi menghampiri saya. Obat sakti itu dikeluarkan. Sekitar 15 menit diistirahatkan, kaki saya sudah mendingan. Lukman menghampiri saya ketika saya sudah siap bergerak.

”Sini tukar Carrier,” ujarnya.

Dari sini saya paham, ternyata carrier saya adalah salah satu biang kerok ketidak-nyamanan pergerakan saya. Punggung carrier saya melengkung ke dalam sehingga rada menusuk tulang belakang. Oleh karena itu, ketika menggunakan Carrier Lukman, punggung saya terasa lebih nyaman. Padahal bebannya sama saja.

Siang hari menjelang. Cuacanya tetap sejuk karena kanopi pohon-pohon yang menjulang menghalangi sinar matahari yang masuk. Saat itu kami berada di Pos Tanjakan Asoy. Sepanjang pos Pangguyangan Badak – Arban – Tanjakan Asoy. Perjalanan saya terasa lebih ringan dengan carrier Lukman.

Tak lama kemudian, Lukman sampai di Pos Tanjakan Asoy. Raut mukanya perpaduan antara lelah dan kesal.

”Carrier lu gak enak banget. Sakit punggung guah!” Ia ngedumel. ”Tuker lagi!”

Akhirnya setelah makan siang di Tanjakan Asoy, saya kembali menggunakan Carrier saya lagi. Benar saja, baru beberapa meter berjalan, kaki saya sudah ada gejala stun lagi. Tanjakan asoy memang sesuai namanya. Terjalnya mendobrak akal sehat. Selama kurang lebih satu jam kami harus bergerak mendaki undakan akar-akaran. Tambah lagi pohon fulus yang berkembang biak dengan suburnya disini. Benar-benar asoy.

Tepat ketika melewati ladang fulus, saya terguling lagi. Kali ini yang stun paha kiri. Namun kali ini korban tanjakan asoy bukan hanya saya saja. Ada Iman yang kakinya bermasalah, dan juga Heri yang juga mengalami gejala stun. Tetap saja yang paling parah itu saya.  Juara Satu  Stun Kelas Ciremai.

Iis, yang entah kasihan atau kesal karena saya yang keseringan stun akhirnya meminjamkan daypacknya. Ia akhirnya mencoba carrier saya. Perasaan saya ketika menggunakan daypack. Wow! Leganya… ENTENG!!! Langkah saya mulai teratur dan napas tidak sengos-ngosan sebelumnya.

Di lain pihak, Iis yang menggunakan carrier saya. Mukanya pucat. Pergerakannya tidak lagi lincah seperti sebelumnya. Akhirnya ketika sampai di Pos Pesanggrahan. Ia meminta daypacknya lagi. Kalau diteruskan sampai ke atas, bisa-bisa ia terkena stun juga.

Pos Pesanggrahan, pukul dua siang. Vegetasi mulai terbuka. Kami melanjutkan perjalanan kembali. Sepertinya punggung saya sudah mulai terbiasa menggendong stun carrier ini. Sesekali puncak Ciremai terlihat. Gundul tiada vegetasi.  Kami terus bergerak perlahan.

Mulai dari Pos Pesanggrahan ini, kami mulai menemukan banyak botol-botol yang digantungkan di pohon. Entah apa maksudnya. Tapi menurut Kopral, itu adalah tanda bahwa Ciremai merupakan gunung yang dianggap suci. Dilarang buang air sembarangan.

Saya memandangi botol-botol yang bergelantungan diatas pohon. Memang warna airnya ada yang putih, kuning, coklat, yah bayangkan saja sendiri. Lama-lama jijik juga.

Memasuki batas vegetasi di Sanghyang Ropoh, sebuah pos kecil sebelum memasuki trek bebatuan. Iqbal minta berhenti. Buang air besar. Sekembalinya buang air besar. Ia pucat. Kemudian duduk sambil menyender di batang pohon.

”Pral gw gak muncak ya,” ujarnya.

Seketika kami semua kaget.

”Kayaknya asma gw kambuh. Gak kuat ini,” ujarnya. Mukanya makin pucat.

”Mana bisa, kita mesti muncak semua,” ujar Muhar.

”Lo mau ngecamp dimana kalo gak muncak?” tanya Kopral.

”Gw ngecamp di Gua Walet aja. Lagipula ntar lu lu pada kan turun lagi ke Gua Walet. Sama aja kan,” ungkapnya.

”Gak gitu Bal rencananya. Kita semua muncak, turun lewat jalur Linggarjati,” terang Kopral panjang lebar (yang tentunya saya singkat karena lupa). ”Mending lo sekarang istirahat dulu. Pulihin tenaga lo. Nanti kita harus naek semua. Udah gak jauh lagi ini puncaknya.”

 

Six Legged Summiter

Saya sudah lupa pukul berapa saat itu. Matahari sudah tidak terik lagi. Sudah sore. Iqbal sudah menemukan kembali semangatnya untuk muncak. Sementara saya, kembali mengendong carrier saya yang semakin melangkah semakin terasa menyebalkan.

Kira-kira pukul 3 sore, vegetasi mulai menipis. Pepohonan dan puluhan portal yang memaksa kami menjadi atlet halang rintang sudah menghilang. Semak-semak dan perdu menghiasi pinggir jalur. Kondisi jalur sendiri sudah mulai berupa bebatuan. Tiada lagi tanah merah dan lumpur yang menghiasi jalur seperti sebelumnya. Hanya debu-debu beterbangan yang menyiksa pernapasan.

Pukul 4 sore, sampailah kami di Gua Walet. Batas vegetasi yang sering dijadikan tempat terakhir camp untuk summit attack. Namun rencana kami, terus bawa barang bawaan hingga puncak. Kami akan melintas menuju jalur Linggarjati.

Soal kaki saya ini, sudah tidak bisa dihitung berapa kali keram. Farid yang selalu berjalan mantap di barisan depan, sekarang berubah menjadi asisten pribadi saya. Sepertinya ia kesal tidak bisa berjalan dengan lancar, sebab beberapa langkah, saya sudah minta lagi counterpain dalam tas p3k-nya.

“Lo pegang sendiri dah ni counterpain,” mukanya jengah melihat tampang saya yang selalu meringis.

“Muka lo kek orang tua.” Dan panggilan ini terus melekat hingga saya pulang. Ya, si muka orang tua.

Selepas Gua Walet, tanjakan semakin terjal. Tiada ampun. Terus melewati bebatuan. Saya sendiri bisa dibilang hampir trance karena yang saya rasa, tanjakan itu tiba-tiba terasa amat singkat. Mendaki dalam kondisi pikiran dalam dunia lain. Sudah tidak bisa berpikir, saya dimana, teman-teman saya dimana, yang saya lihat hanya satu. Puncak.

Trance tidak berlangsung lama. Seketika saya ambruk. Barulah saya sadar, saya dalam tengah perjalanan summit attack. Saya lihat sudah ada beberapa kawan yang sudah sampai di puncak, menyemangati yang lainnya supaya cepat naik. Barangkali puncak tinggal 200 meter lagi. Sayangnya, semangat yang diserukan kawan –kawan saya tidak mempan. Saya hanya terduduk layu. Meringis. Bahkan hampir menangis. Menangisi kondisi fisik saya yang sedemikian payahnya ini.

“Cepetan maju! Itu puncaknya udah dekat!” ujar Kopral. Nadanya tinggi. Jelas sekali ia ingin mempertahankan mental saya yang seakan sudah kembali turun ke basecamp.

PLAK! Sebuah tamparan di pipi menyadarkan saya lagi. Saya berusaha bangkit. Namun apa daya. Kaki sudah keram luar biasa. Terkunci. Kali ini dua-duanya yang keram. Menggerakkan kaki untuk berdiri rasanya sudah sangat menyakitkan.

“JANGAN MALU-MALUIN PDH YANG LO PAKE!” ujar Kopral berteriak lantang. Saya memang satu-satunya yang menggunakan PDH alias Pakaian Dinas Harian Platalam 34. Sebuah kemeja coklat yang melambangkan kami sudah berhasil menjadi anggota muda salah satu ekskul bergengsi di sekolah. Sebuah ekskul yang sangat disegani. Bahkan Gazper 34 yang dianggap geng tauran di sekolah oleh para guru, tidak berani menyentuh anggota-anggotanya.

Saya sombong. Dan inilah akibatnya.

Alam selalu menghukum orang-orang yang sombong dalam First Priority-nya.

Namun setelah menyadari kesalahan saya saat itu, yaitu kesombongan saya. Saya berusaha dengan keras bangkit.

“Ayo kaki, MOVE IT!”

Akhirnya saya berhasil berdiri. Saya memandang ke puncak. Sudah banyak yang duduk-duduk di tepian puncak.

Saya langkahkan kaki, dan seketika saya ambruk lagi. Kaki ini sudah tidak bisa diajak kompromi.

Yah ini adalah buah kesombongan saya lagi. Mau mendaki gunung Ciremai yang digadang sebagai gunung terberat di Jawa Barat. Tanpa latihan fisik yang memadai. Tidak ada lari pagi, lari sore. Tidak ada bina jasmani. Yang ada hanya kekuatan mental saja. Sayangnya, mental saya saat itu masih dipenuhi arogansi.

Saya berusaha berdiri lagi, rasa sakitnya sudah tidak saya pedulikan. Counterpain satu Tube sudah saya habiskan. Bahkan salonpas gel yang diberikan Farid sudah mau habis.

Lagi-lagi saya terjatuh. Terhempas ke bebatuan. Untung tidak sampai terguling-guling. Bisa-bisa saya tidak akan menulis tulisan ini.

Dari belakang sepertinya Kopra sudah tak tahan melihat kondisi saya ini.

“Du!” ia memanggil Eddu yang sudah hampir mencapai puncak. “Lo ama Farid bantuin bopong dia.”

Kemudian ia menghampiri saya yang sudah terduduk. Farid masih telaten mengurut paha saya meskipun mukanya sudah sangat kesal.

“Buka carrier lo.” Dan tanpa banyak berkata, ia mengangkat carrier saya di dadanya. Double carrier seperti porter.

Akhirnya, saya berhasil berdiri lagi. Eddu di kanan, Farid di kiri. Saya merasa malu. Malu dengan keadaan saya. Namun keadaan saya memang tidak memungkinkan. Langkah demi langkah. Saya mendaki dengan pasti. Kopral yang membawa carrier saya terus berada di belakang saya. Ia tidak lelah menyemangati saya. Dalam hari saya tahu, ia pasti sudah kesal.

Ternyata memang puncak sudah tidak jauh. Barangkali 15 menit setelah saya dipapah. Saya sudah sampai di dataran puncak. Bibir kawah yang juga menjadi dataran tertinggi Jawa Barat sudah tinggal beberapa langkah lagi. Eddu dan Farid melepaskan saya untuk berjalan sendiri.

Anehnya, rasanya saat itu kaki saya sehat seketika. Saya berhasil melaju. Langkah demi langkah dengan mantap. Lupa kalau saya tidak membawa carrier. Lha wong Kopral yang membawa carrier saya saja sudah mendahului saya.

Akhirnya. Bibir Kawah. Dengan gontai saya menghampiri kawan-kawan saya yang lain. Wajah mereka, meskipun menyisakan gurat-gurat kelelahan, tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Saya tersenyum memandang kawah kembar Ciremai.  Sebuah prasasti tertulis dengan jelas.

“Puncak Pangeran Telaga. 3078 mdpl.”

Saya memandang ke sekeliling. Matahari sudah terbenam dibali gumpalan awan. Sang Mahakuasa telah mendatangkan kegelapan.

Disebelah prasasti tersebut terdapat sebuah nisan. Seorang pendaki rupanya telah beristirahat dengan tenang di sisi sang Pangeran.

Kamu beruntung, tidak bernasib sepertinya.  Jadikan perjalanan ini sebuah pelajaran untuk selalu dikenang. Langkahmu jangan berhenti disini. Nanti akan ada puncak lain yang akan mengujimu dengan lebih berat…”

Saya masih mengingat Wejangan dari Sang Pangeran Telaga. Sebuah pelajaran berarti. Sebuah metafora tentang kehidupan ini.

Sang Pangeran Telaga tersenyum. Ia berhasil membunuh kesombongan saya.

———————————————————————-

Entah kenapa, saya merasa makin tidak nyaman untuk tidur.

Meluruskan kaki bukannya tambah enak, malah terasa makin janggal.

“Kenapa ada batu yang masuk ya?”, pikir saya heran. Bagian ujung tenda tempat saya meluruskan kaki dipenuhi kerikil-kerikil kecil.

Akhirnya saya sadar juga, saya bukan tidur berbaring, melainkan nyaris berdiri.

Tenda yang saya tempati merosot masuk ke dalam jurang.

 

 Yes, We’re Stupid Back Then

Awan bergulung-gulung di kaki gunung. Semburat jingga jauh di Barat.  Jadi ini rasanya di negeri di atas awan seperti lagu Katon Bagaskara. Udaranya dingin, angin kencang menampar-nampar muka, dan kaki rasanya tidak karuan.

Tim pengambilan nomor Platalam SMAN 34, Saya, Heri, Iis, Lukman, Farid dan Iman sedang menikmati suasana di puncak gunung tertinggi di Jawa Barat ini. Perjuangan susah payah kami, yang garisbawahi saja kata payah pada kelakuan saya sebelumnya (lihat di note sebelumnya), terbayar. Lelah tiba-tiba menghilang.

Inilah sifat magis dari gunung. Menguji di awalnya, memuaskan di puncaknya.

“Foto-foto udah, isi tenaga udah, ayo kita turun lagi. Jangan sampai kemalaman. Matahari udah terbenam,” ujar Kopral selaku pembimbing pengambilan nomor. Pembimbing yang lain, Iqbal, Eddu, Ilham, dan tentu saja Muhar, sudah bersiap untuk berjalan lagi.

Yah selamat tinggal Pangeran Telaga, mungkin suatu saat saya akan kembali lagi.

 

Rolling Stones

Perjalanan pada awalnya biasa-biasa saja. Melipir dataran puncak menuju jalur Linggarjati. Melipir kawah. Kaki masih enteng untuk melangkah. Meski mental hancur lebur karena kelelahan. Setiap beristirahat menunggu rombongan belakang di sebuah datara bonus, saya selalu berpikir, “kenapa engga nge-camp disini aja?”.

Yah memang pikiran polos anak muda yang baru mendaki gunung seperti itu. Padahal kalo saya ingat-ingat, begok sekali saya saat itu. Nge-camp di dataran puncak, ibarat menantang badai. Bayangin aja upil, taro di depan kipas angin. Ya seperti itulah keadaannya.

Jadi setelah hampir setengah jam berjalan, langit sudah gelap gulita. Estimasi saya sudah sekitar pukul 18.30. Kami mulai menuruni jalan. Saya berjalan paling depan, karena saya yang paling lelet. Bahaya kalau saya di belakang, bisa-bisa tertinggal jauh kalau kena stun.

Jalanan mulai menurun terjal. Penuh bebatuan. Kopral mengambil alih posisi leader. Ia menggunakan headlamp yang cahayanya paling terang. Mau tak mau ia yang buka jalur. Maklum, jalurnya sendiri sudah tidak kelihatan. Batu saja semua.

Sedang asyik melangkah, tiba-tiba batu murudul. Salah pijakan. Untung Kopral jauh posisinya.

“Woi ati-ati kalo jalan!” ujarnya dari bawah.

Tak lama kemudian, saya yang dapat kiriman batu dari atas. Untung bisa menghindar.

Druk-druk-druk buuungggg…

Glatak-glatak….  SOORRR!!!

“Woi ati-ati!”

“AWAS BATUUU!!!!”

Kira-kira begitulah sound effect pada perjalanan turun saat itu. Tidak terhitung berapa batu dan kerikil yang ikutan turun dari puncak bersama kami.

Ada kalanya saat saya beristirahat sejenak, berhenti menghimpun nafas, saya mendongak ke langit. Bintang yang bertaburan indah sekali.

Begitu kembali melihat ke jalur, saya beristighfar.

 

The Tilting Tent Tale

Satu jam lebih kami berjalan menyusuri bebatuan dari puncak dengan hati-hati dengan style TurPan (Turun pake Pantat), akhirnya kami sampai di Pelataran Besar. Pos Pengasinan namanya. Pos ini adalah pos yang biasa digunakan pendaki untuk summit attack dari jalur Linggarjati.

Namun kali itu, kosong. Kami hanya beristirahat sejenak. Saya tidak tahu rencana Kopral untuk bermalam dimana saat itu. Untungnya kaki saya tidak ada gejala stun lagi. Alhamdulillah.

Tapi lemasnya itu tetep. Belum pegal-pegal di sekujur badan. Rasanya ingin cepat-cepat ngecamp.

“Gak bisa ngecamp disini. Ke bawah masih jauh. Anginnya kekencengan disini,” Kopral mewanti.

Namun kondisi fisik memang tidak bisa kompromi. Beberapa menit kami turun dari Pengasinan, akhirnya keputusan diambil. Ngecamp lagi di tengah-tengah jalur. Saya sudah sangat kelelahan. Tidak tahulah yang lain. Tapi saya rasa Iman juga sudah tersiksa dengan benjolan telur ayamnya. Iqbal juga bisa asma kalau dipaksakan. Anginnya dingin luar biasa.

Carrier dibongkar, tenda mulai didirikan. Tenda pertama berdiri dengan mantap. Tenda kedua berdiri dengan mantap. Tibalah saatnya mendirikan tenda ketiga. Tenda sudah berdiri, namun posisinya berada tepat di tengah jalur. Akhirnya tenda tersebut dipindahkan, dikepinggirkan sedikit.

Singkat cerita ketiga tenda sudah berdiri tegak. Dapur umum mulai ngebul. Masak-masak dimulai. Lalu karena kelelahan dan cepat-cepat ingin tidur, masak seadanya saja. Kami makan dengan cepat dan lahap, padahal kalo saya ingat, nasinya kurang mateng. Iis gimana sih masaknya? Culun amat(saat itu).

Arloji sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Setelah merapikan dapur sekenanya dengan fly-sheet. Semuanya masuk ke dalam tanda. Nyaris tidak ada candaan. Semuanya sudah sangat lelah.

Kebetulan saat itu saya satu tenda dengan Heri, Lukman, dan Farid. Dan kisah legendaris ini dimulai.

***

Dari awal masuk, saya merasa tenda yang saya tempati memang sudah miring. Anggaplah ya sudah miring 5 derajat. Ditambah lagi mendirikan tenda hampir di tengah jalur yang penuh bebatuan, ya dasarnya meletat meletot. Mesti benar-benar mencari posisi tidur yang pas.

Beberapa menit tertidur, tenda terasa makin miring saja. Saya ingat Lukman yang sepertinya merasa kesal karena tendanya miring, atau karena tidur di sebelah Heri, akhirnya keluar. Ia menarik sleeping-bagnya, lalu dengan tenangnya tidur di tengah-tengah jalur. Beratapkan langit saja. Saya pikir ia sudah gila, atau emang tekbal dingin.

Beberapa saat kemudian, maklumlah sudah tidur-tidur ayam, saya terbangun lagi. Kali ini Farid yang keluar. Sepertinya ia sudah merasa ada keanehan dengan tenda ini. Ia keluar, membangunkan Lukman yang sedang tenang-tenangnya tidur di sleeping bag. Namun setelah itu terdengar suara tenda sebelah dibuka. Ternyata ia kabur ke tenda sebelah.

Tinggal saya berdua dengan Heri. Horor sekali ya?

Lalu beberapa saat kemudian,,, saya sudah merasa tenda ini miring 45 derajat. Saya sudah tidur hampir berdiri.

“Her, miring nih, gimana?” ujar saya kepada Heri.

Heri berguman tidak jelas. Lalu ia segera keluar dari tenda. Saya pikir mau kemana dia, tenda sebelah kecil, ditambah Farid pasti sudah penuh.

Tiba-tiba terdengar sedikit keributan di luar antara Heri dan Lukman. Mereka berbincang-bincang dengan alot. Dan entah mengapa, tiba-tiba saja Heri dan Lukman sudah saling meringkuk dalam satu sleeping bag. Entahlah  apa yang terjadi. Entahlah apa yang Heri lakukan supaya Lukman mau berbagi Sleeping Bag. Entah apa apa.

(Namun beberapa tahun kemudian, keduanya sukses jadi “analis”.) –tolong di bold 4 huruf pertamanya-

Dan tinggallah saya sendiri berada dalam tenda yang sepertinya sudah miring dan merosot masuk ke dalam sebuah cerukan. Otak sehat saya berpikir. Kalau saya keluar, saya mau tidur dimana? Tidak ada tempat. Bisa-bisa mati kedinginan. Saya dihantui oleh cerita-cerita frostbite dimana orang diamputasi bagian tubuhnya karena beku. Enggak banget yey kalo eyke kena yang gituan.

Sementara saya juga berpikir keras, bagaimana saya tidur kalau tenda seperti ini? Miringnya sudah 45 derajat. Seluruh peralatan seperti carrier sudah merosot kebawah. Namun saya akhirnya berpikir, berhubung dalam tenda sudah tinggal saya sendirian,  tenda ini sepertinya tidak akan merosot lebih jauh lagi. PREDIKSI ANDA SALAH ANAK MUDA!

Dan beberapa saat kemudian, tenda benar-benar masuk ke dalam jurang. Tepatnya bukan jurang juga, tetapi sebuah ceruk sedalam tiga meter. Saya terbangun dan kaget ketika saya sudah tidur nyaris berdiri. Pintu tenda berada di atas kepala saya, seperti pintu kapal selam. Ditambah lagi risleting pintu tenda yang tidak terlalu rapat tertutup, membuat batu-batu kecil dari jalur masuk ke dalam tenda.

Saya bingung luar biasa.

Di luar, saya mau tidur dimana?

Di dalam, saya mau ngapain dalam tenda kapal selam ini?

Kalau tidak salah, saat itu sudah pukul dua pagi.

Akhirnya saya berpikir, lebih baik tenda ini ditarik lagi ke atas. Maka saya keluar. Dan ternyata, mengenaskan sekali keadaan tenda jika dilihat dari luar. Bentuknya sudah tidak seperti tenda lagi. Seperti ceruk yang ada pintunya.

Saya berusaha menariknya, terlalu berat. Saya bangunkan Lukman dan Heri yang berada di dekat saya. Mereka hanya melenguh kesal.

“Woi tendanya masuk jurang ini! Bantuin narik!”

Mereka berdua kembali melenguh. Tidak ada harapan. Maka saya kembali menghampiri tenda sebelah.

“Woi tendanya masuk jurang woi!”

Tidak ada respon.

“WOI TENDANYA MASUK JURANG! WOI BANTUIN NARIK!”

Entah berapa kali saya berteriak-teriak seperti itu. Di tengah udara dingin dan angin yang menusuk tulang.

“WOI TOLONG! TENDANYA MASUK JURAAAANG!!!!”

Sebuah suara dari dalem tenda menyahut pelan. Saya lupa siapa yang berkata.

“Berisik amat sih lu Bloy,,,”

“YA TAPI INI TENDANYA MASUK JURANG. LO PADA KELUAR DULU NGAPA LIAT TENDANYA!”, ujar saya berapi-api ibarat ini masalah hidup dan mati. Hebatnya tidak ada respon dari tenda yang lainnya.

Suasana kembali hening.

Asli saya kesal luar biasa. Dongkol. Jangan-jangan mereka mengira saya mengigau. Saya akhirnya mengintip ke salah satu tenda. Ah penuh. Tenda yang lainnya juga penuh.

Mau tidur dimana saya? Mata mengantuk, badan kelelahan, dan perjalanan turun masih panjang.

Saya terduduk di atas sebuah batu. Memandang nanar sang tenda kapal selam. Tidak mungkin saya masuk lagi kedalam sana. Sedangkan berada di luar dinginnya luar biasa.

Akhirnya setelah beberapa menit terbengong-bengong di ketinggian 2000 meter, saya baru sadar kalau ada Fly Sheet yang digunakan untuk menutupi peralatan dapur umum. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya tarik Fly Sheet tersebut dan saya gunakan sebagai selimut.

Entah kenapa, baru saja berbaring, saya sudah tertidur pulas. Seperti ada kekuatan gaib yang berkata, “TIDUR KAMU CEPAT! GAK USAH PIKIRIN YANG LAIN!!!”

 

Return to the Earth!

Entah saya yang dibangunkan, atau terbangun sendiri. Suasana pagi itu sudah ribut. Ribut karena melihat tenda yang masuk ke dalam ceruk.

“Ini kenapa tenda bisa ada  dalem sini?”

“Bloy lo apain tendanya?”

“Ayo bantuin tarik tendanya!”

“Keluarin dulu barang-barang di dalam!”

“Kok ini dapur diacak-acak? Flysheetnya kemana?”

“Perasaan tadi malem gw boker di dalem ceruk itu…”

Perkataan yang terakhir milik Iqbal.

Nah kan,  semuanya aja pada panik lihat tenda seperti itu. Apalagi saya tadi malam. Sudah mana kedinginan. Badan pegal-pegal semuanya. Tenda seperti itu. Mau dievakuasi sendiri juga tidak mungkin.

Namun akhirnya tenda tersebut bisa dievakuasi. Ada beberapa frame yang patah. Kopral pusing, tenda itu tenda pinjaman.

Dan begoknya lagi, mereka malah sempat-sempatnya menertawakan kepanikan saya semalam, ketika teriak-teriak tanpa henti membangunkan mereka.

“Gw sebenernya mau bangun bloy, tapi dalem tenda aja dingin banget.”

“Badan gw masih pegel-pegel.”

“Gw kira lo ngigo.”

Tapi whats done is done.Saya memang pantas dinobatkan sebagai Man of The Match Ciremai.

Kami menikmati sarapan dengan panorama semburat sunrise. Padahal saat itu masih pukul 5 pagi. Namun suasana sudah terang. Perasaan sudah lega karena perut sudah diisi.

Sekitar pukul 8, perjalanan kembali dilanjutkan. Saya berjalan paling depan bersama Iman. Dan kisah seperti hari sebelumnya terulang. Beberapa menit dari posisi ngecamp, kami sampai di pelataran sempit bernama Pos Sangga Buana. Memang pas-pasan kalau diisi tiga tenda, namun setidaknya saya tidak akan tidur di kapal selam seperti semalam.

Saya dan Iman bergerak  turun dengan pasti. Yang lain tidak terlihat di belakang. Namun tiba-tiba terdengar langkah berat. Eddu berlari. Menyalip kami berdua. Langkahnya mantap sekali. Tidak lama, ia sudah menghilang di balik pepohonan.

Ya kami sudah masuk ke dalam hutan lagi. Masuk kembali ke dalam vegetasi yang rimbun. Dan jalurnya, luar biasa. Terus menurun terjal. Tidak ada bonus. Kaki ini seperti tidak diberi kesempatan untuk mengerem. Kaki saya dan Iman yang sama-sama bermasalah tidak bisa dipaksakan. Iman berjalan tertatih. Saya juga. Saya tidak mau stun lagi.

Sampai  Pos Tanjakan Bapa Tere, kami kaget ketika jalurnya menghilang. Ternyata jalurnya terjun bebas. Sebuah tanjakan nyaris 90 derajat. Turun saja sulit. Bapak tiri ternyata lebih kejam dari ibu tiri.

Jalur dari Tanjakan Bapa Tere hingga Pangalap didominasi memang terkenal sebagai etape killer di Jalur Pendakian Linggarjati. Kami terus menuruni tanjakan tanjakan dengan elevasi antara 45 hingga 70 derajat. Yang paling killer yang tadi itu di Bapa Tere. Namun rasanya semua sama beratnya, karena memang tidak ada jedanya antar tanjakan.

Serial tanjakan-tanjakan curam yang harus kami turuni terus berlanjut hingga pos Tanjakan Sareni. Saya dan Iman yang terus berjalan gontai disalip oleh Kopral dan Muhar. Mereka terus turun. Yang saya ingat, saya berjalan bersama Iman dan Iqbal saja. Sisanya masih di belakang.

Perjalanan turun menuju Pos Kuburan Kuda untungnya sudah tidak terlalu curam, namun tetap menyiksa. Sepanjang perjalanan saya sering refleks mengeluh ketika tersandung atau terpeleset. Yah namanya juga reflek tak terkontrol. Iqbal sampai  kesal mendengar keluhan saya.

Sesampainya di Pos Kuburan Kuda, kami beristirahat. Kami semua sudah sangat lelah. Kaki saya seperti ada gejala-gejala stun lagi. Muka Iman sepertinya menahan siksaan karena benjolan di kakinya. Dan muka Iqbal yang sudah kusut terlihat lebih kusut. Rombongan kami sudah terpecah belah. Eddu, Kopral, Muhar dan Farid berada di depan. Sedangkan Iis, Ilham, Lukman dan Heri entah berada dimana. Entah jauh di belakang, atau sudah dekat.

Haus. Terakhir saya minum di Bapa Tere. Air sudah habis dibagi berdua dengan Iman. Air di Iqbal sudah menipis.

“Bal yang bawa air sapa lagi?”

“Ilham sama Eddu.”

“Wah si Eddu udah jauh di depan. Ilham juga gak tau dimana. Mau tungguin Ilham?”

“Udah minum aja ini air. Bagi-bagi buat bertiga,” ujar Iqbal menyodorkan botol aqua 1.5 liter yang isinya sudah kurang dari setengah.

“Sialan si Eddu. Bawa air paling banyak, malah lari paling depan,” guman Iqbal.

Akhirnya jalur menjadi sedikit datar ketika sampai di daerah Condang Amis hingga menuju Leuweung Datar yang artinya saja Hutan Datar. Tapi jalurnya menjadi berkelok-kelok. Tanahnya berupa tanah merah seperti baru disiram hujan. Saya baru ingat, beruntung sekali kami tidak tersiram hujan selama pendakian.

Namun tanah merah yang basah nyaris seperti lumpur ini tentu saja menghambat langkah saya. Akhirnya saya keram keram lagi setelah hampir 12 jam bebas dari keram.  Mau istirahat minum dulu sudah tidak bisa. Air sudah tidak ada. Yah saya pasrah saja meringis menahan kelu di paha.

Untungnya keram keram saya tidak separah kemarin. Hanya sekali keram saja, keseleo beberapa kali, dan terpeleset yang sudah tidak terhitung berapa kali. Warna celana kargo krem saya sudah berubah menjadi coklat. Iman yang memakai celana pendek, betisnya sudah dipenuhi lumpur. Iqbal juga sama.

Disini saya baru bertemu lagi dengan rombongan pendaki lain yang hendak naik. Apalah mereka tahu bahwa serial tanjakan mengerikan sudah menanti di depan mereka? Saya tidak mau memikirkan hal itu.

“Basecamp udah deket mas?” tanya saya.

“Udah deket, 2 langkah lagi,” jawabnya simpel.

“2 langkah jin!” temannya menimpali. Kemudian mereka tertawa. Saya yang tadinya dongkol ikut tertawa.

 

Kalap

Sekitar pukul 1 siang,  jalanan sudah mulai mendatar. Vegetasinya berubah menjadi pohon pinus. Sepertinya daerah yang kami lewati menjadi seperti daerah bumi perkemahan. Di kejauhan, terlihat pedesaan yang hijau. Bahkan kami sudah melihat persawahan. Namun ternyata kami masih tinggi sekali diatas.

Masih tinggi, tapi jalanan mendatar, berarti jalannya memutar-mutar. Dan benar saja, tikugannya memang hanya ada dua. Kiri dan Kanan. Tapi ulang-ulang saja terus. Kami mulai sering berpapasan dengan pendaki lain yang hendak muncak. Mereka semua bilang, desa sudah dekat,  tapi mukanya ngos-ngosan.

Dekat di peta, jauh di jalur.

Tiba-tiba saja, sebuah gubuk terlihat. Warung! Tiba-tiba tenaga yang sudah loyo ini menjadi bersemangat. Dalam tempo kurang dari lima menit. Kami bertiga sudah berleha-leha di bangku warung dengan teh manis hangat yang mengepul.

Bukan hanya itu, kami juga dengan kalapnya mengambil gorengan. Segala jenis minuman dipesan. Dari teh manis, kopi, hingga minumannya LAKI.

Tak lama, muncul Lukman. Ia datang sendiri. Yang lainnya entah dimana. Katanya sih di belakang. Jalan santai. Tapi Lukman datang dengan raut muka suram meskipun langkahnya menuju warung terlihat mantap.

“Kayaknya makin gw turun makin berat aja nih,” keluhnya. “Kayaknya carrier malah jadi penuh lagi diisi.”

(Sesampainya di Jakarta nanti, kami sadar kalau memang Lukman banyak menambah bawaan.)

Sekitar pukul setengah 2 siang, sisa rombongan datang. Heri, Iis, dan Ilham sebagai sweeper. Ternyata, mereka juga kehabisan air. Ilham cerita, kalau tadinya ia memang membawa air, tetapi ketika airnya diserahkan ke Eddu, tiba-tiba Eddu langsung maju melesat jauh. Jadilah mereka juga krisis air.

Pukul dua, setelah memuaskan diri di warung, kami kembali turun. Dalam tempo kurang dari setengah jam, kami sudah sampai di pelataran utama Bumi Perkemahan Cibunar, basecamp awal Jalur Pendakian Linggarjati.

Disana Kopral dan yang lainnya sudah menunggu. Malah mobil Kijang miliknya sudah ia parkir di pelataran tersebut. Saya heran, kok mobilnya sudah ada disitu.

“Kalian ini gimana sih. Saya sama yang lain udah tunggu dari jam 1. Karena lama, saya turun ke bawah dulu ambil mobil. Balik kesini, kalian belum juga sampe!” ujarnya kalap. Ditambah lagi ketika ia tahu kami lama di warung. Ia memarahi kami habis-habisan.

Dalam hati saya bersyukur. Saya tahu, ia marah besar karena memang ia perhatian terhadap kami, adik-adiknya yang menyusahkan ini. Bahkan saking perhatiannya, setelah menaruh perlengkapan kami di rumah pamannya, ia mengajak kami berendam air panas di Sangkan Hurip.

Ending yang luar biasa memang. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melemaskan otot-otot yang kaku dalam air hangat alami. Lalu sebungkus nasi goreng hangat, dilanjutkan dengan tidur dalam rumah, yang beratapkan genteng, terhalang dari angin dingin yang menusuk, dan yang paling penting, pintunya tidak berada diatas kepala saya..

2005-06-03 ciremai

158/PLTM/2003

Later known as Agun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s