[J]OYRIDE

Am i romantic?

Diluar gerbong sana, suasananya sudah terang. “KRIAN +12”. Ah saya jadi teringat masa-masa 2011. Kala Mas Andry menuntun saya dan dua orang kawan melalui jalan tersebut. Ngebut di flyover. Namun kali ini, ngebutnya di rel.

Dian bilang, saya tidur pulas sekali. Tidak peduli kata orang kalau kursi gerbong retrofit Mutiara Selatan sekarang kurang nyaman. Kalau dipikir-pikir, hal terakhir yang saya ingat sebelum tidur adalah alunan genta “Ditepinya Sungai Serayu”. Khas Stasiun Kroya.

Setengah enam pagi. Mutiara Selatan masuk peron empat Stasiun Gubeng. Tepat waktu ya, sesuai dengan GAPEKA 2015. Ya Alhamdulillah bukan masuk peron 9 3/4. Nyasarnya kejauhan nanti.

“Turun Uung?” tanya Dian. Pikir saya, nantilah saya ke Stasiun Semut. Soalnya KZX naik KA Turangga yang jadwal sampainya pukul 9:30 nanti. Mau minta dikirim ke Gubeng, Herona bilang kalau Surabaya pilihannya Pasar Turi atau Semut. Waktu saya cek peta, dari Gubeng lebih dekat ke Semut. Oke baik.

“Mas kalau dari sini ke Semut lanjut naik apa?” saya sempat bertanya ke seorang petugas KA saat saya sudah turun dan berada di peron.

“Naik lagi aja Mas… Ini keretanya mau ke Semut. Parkir disana,” ujarnya. “Cepet naik Mas. Ini keretanya udah mau jalan lagi!” Maka tanpa pikir panjang saya dan Dian masuk gerbong lagi. Memang, tak sampai 15 menit. Kereta sampai di Stasiun Semut. Terminus. Wasyem, turunnya kudu loncat, karena emang nggak ada peron. Namanya juga tempat parkir kereta.

img_0668

img_0671
Stasiun Surabaya di pagi hari

Pagi itu kami habiskan berdua di angkringan dekat Herona. Belum bisa ambil motor. Heronanya aja tutup. Apalagi kata Mbak Warung, kalau hari libur bukanya bisa lebih siang. Ah iya juga, hari itu tanggal merah. Tahun Baru Islam. Satu Suro di Suroboyo. Sumpah enggak disengaja itu.

Skip sajalah ke 3 jam kemudian. KZX sudah diterima. Penuh dengan lecet. Bukan karena selama di gerbong. Tapi emang darisananya begitu keadaannya. Sampe petugas Herona Bandung aja bilang, “teu kudu dipacking ieu mah nya Kang, da geus loba baret kieu.”

Tak jauh dari Stasiun Herona, refueling pertama karena bukan karena bensin KZX dibuang sebelum masuk gerbong. Emang udah disengaja. Daripada dikuras-kuras lagi. Soal refueling, data teknis lengkapnya bisa dibaca sendiri dimarih -> https://www.facebook.com/notes/adit…

Bensin fulltank. Lalu mau kemana? Saya enggak hafal Surabaya. Tapi apalah artinya petualangan kalau nggak pakai nyasar. Tujuan saya pertama adalah ke rumah Simbah Gajah (Sigit) di bilangan Wonokitri. Dulu 2011 jaman CIE kesitu. Pulang dari Argopuro 2013 juga kesitu. Sekarang 2015, kesitu lagi. Barangkali nanti 2017 saya kesana lagi ya Mas…

Karena GPS di HP udah nggak bego-bego amat, nggak sampai satu jam kami sudah sampai disana. Baru sekitar pukul 11, panasnya udah kayak ketel. Mungkin karena terbiasa dengan udara Bandung. Padahal Bandung sekarang juga udah enggak sejuk-sejuk amat.

“Emang panas Dit. Belum kena hujan,” kata Simbah Gajah saat kami bersua (lagi). Rumahnya ini memang cukup nostalgic. Gimana enggak keingetan terus. KZX dulu di fullwave disini, sebelum akhirnya diberangkatkan ke Lombok. Nggak lama, Simbah Gajah mengajak saya ke kediaman rajanya dedemit Surabaya dan sekitarnya. Simbah Surogendheng (Riza). Tourmaster kala perjalanan ke Lombok tempo taun silam.

“Nggak jauh.” Begitu kata Simbah Gajah. “Cuma di Sidoarjo. Lagian juga sejalur. Sebentar, saya isi bensin dulu,” ujarnya sembari ngegas motornya. Nggak sampai 10 menit, ia sudah kembali. Cepat sekali pikir saya. Eh ternyata..

“Alah. Dompetku ketinggalan.”

Akhirnya setelah 10 menit lagi, barangkali saat itu hampir pukul satu siang, kami pun berangkat menuju Sidoarjo. Tak lupa, foto-foto sebentar di patung Suro dan Boyo di gerbang Wonokromo. Sumpah, 2x ke Surabaya sebelumnya saya selalu lewat patung ini. Selalu kepengen foto disini. Baru kesampean ya saat itu.

img_0684
landmark

Perjalanan menuju Sidoarjo ya biasa-biasa saja. Enggak macet. Lancar. Cukup 40 km/jam saja. Simbah Gajah kebetulan membawa anaknya. Diikat kayak bawa tas. Gimana mau ngebut! Tambah lagi, helm saya serasa dipukul pukul dari belakang. Beradu. Ah teler ini si Dian. Ngacok.

Pukul setengah tiga siang, kami sampai di Workshop Surogendheng. Terlihat Simbah Suro sedang asik ngotak ngatik pelek. Tidak tampak muka takjub atau gimana saat berjumpa. Memang gitu orangnya. Cool Calm and Confident. Yang belum kenal sih, pasti bilangnya Judes.

“Ini kudu masuk!” ujar Simbah Suro selesai bersalaman dengan saya. Swingarm di tangan kanankuuu… Pelek di tangan kirikuu…. Begitulah. Coba nyanyiin. Pasti tau iramanya.

 

Gimana enggak perlu usaha. Pelek standar ZX belakangnya cuma 1.65 inci. Ban standarnya 80/90-17. Lah ini mau masukin pelek 2.50 inci yang udah dipasang ban 120/80-17. Apa nggak gendheng itu. Gendheng ora son? Gendheeeeng.

 ampai di Workshop, kebetulan ada kamar kosong. Dian yang sejak di jalan sudah teler, lanjut tidur di kamar. Saya? Diluar. Ngobrol. Meski Simbah Gajah dan Simbah Suro ngobrol dengan bahasa Jawa Suroboyoan, entah kenapa saya ngerti. Apa karena jodoh? Ato sudah sama-sama gendheng. Nah itu kali jawabannya.

 Sekitar pukul empat sore, Simbah Gajah pamit untuk pulang. Kan memang rencananya ke Sidoarjo nganter saya doang. Macam tongkat estafet aja, dioper. Jarak rumahnya ke Workshop sekitar 20km. Deket, katanya. Ternyata emang.

Simbah Suro ngajak saya makan Kupang. Sebelum berangkat lanjut. Nanti balik lagi paling abis Maghrib. Memang saya sudah rencanain kalau melintasi jalur Pantura Jatim, sebaiknya pas udah gelap. Okelah, memang dari siang belum makan. Setelah mandi dan beberes, saya dan Dian sukses diculik Simbah Suro. Melewati jalur-jalur pedesaan yang ramai. Saya pikir deket. Ternyata emang. Setengah jam lho. Ada kali 10km. Azan Maghrib sudah berkumandang ketika saya sampai di kedai Rujak Kupang. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore.

“Mas Anto paling seneng nih sama yang begini,” ujar Simbah Suro tatkala Rujak Kupang sudah tersaji di meja. Eh ya benar saja. Begitu foto hidangan tersebut masuk ke WA Group ZXer, Mas Anto dari ZX-130 Bandoengers langsung nongol.

Enggak lama sebenarnya kami makan di warung. Namun ternyata Simbah Suro cukup antusias kala tahu Dian kerja di PT. DI. Jadilah mereka berdua ngobrol seru tentang pesawat. Ya saya sih ndengerin aja. Cukup senang karena Dian bisa akrab dengan kawan-kawan saya. Itu tujuannya memang. Ngenalin.

Charge of Darkness

Adzan Isya pukul setengah tujuh malam. Kami semua sudah balik lagi ke Workshop. Siap-siap menembus Pantura. Targetnya, Paiton. Kenapa Paiton? Karena sebelumnya Dian berhasil menemukan sebuah penginapan di website Agoda. Harganya 165ribu. Semalam. Tempatnya bagus, kalau lihat fotonya. Apakah tipu-tipu? Entahlah. Maps menunjukan sekitar 130km menuju TKP. Apakah sampe? Ya kudu. Ato malam ini saya dan Dian bakal tidur di Penginapan Ora Mbayar (POM).

Oh ya, Simbah Suro memang memberikan behel belakang custom yang bisa dipakai menaruh barang. Ternyata buatan Iron Man Prambanan (Nawan). Tukeran dengan behel ori KZX. Cuma karena saat itu tali pengikatnya belum ada, yasudahlah. Sementara barang masih berada di dek tengah. Diapit diantara kaki. Ya beginilah enaknya motor bebek.

Saya sendiri kurang paham lewat jalur mana Simbah Riza membawa kami malam itu. Enggak pakai jalur biasa. Lewat kampung-kampung-kampung, eh sampai juga kami di Jalur Pantura. Lewat alun-alun Pasuruan yang jelas. Ya selanjutnya sudah bisa ditebak kelakuan Surogendheng. Ngebutnya itu lho. Padahal motor Kaze 125. Ah curang dia, sudah hafal medan. Salutnya itu setiap lampu merah. Pasti dia berhenti. Tepat di belakang garis. Ya bolehlah kelakuan gendheng, tampang judes. Soal aturan di jalan. Taat.

“Ung, kok bau aneh gini. Kayak bau kopling,” ujar Dian. Bukan motor saya yang bermasalah, tapi kala itu kami sedang melintasi tanggul porong yang terkenal itu. Bau gas itu coy. Gila kali motor baru turun mesin udah kena lagi koplingnya.

Pukul setengah delapan malam. Pertigaan Porong. Simbah Suro memutuskan berpisah. Bukan karena saya sudah dewasa, tapi memang cuma bisa nganter sampai situ saja. Cek maps lagi. Masih 104 km menuju TKP. Ah ya sudahlah. Tanpa cipika dan cipiki, kami pun berpisah. Tinggal saya dan Dian. Berdua. Melaju di keheningan malam.

Oh kalau kalian menyangka saya jalan pelan-pelan saja karena bareng istri baru, salah. Saya masuk Probolinggo pukul setengah sembilan. Itu juga berhenti karena nemu Alfamart. Pas setelah gapura Selamat Datang di Probolinggo.

“Kok banyak yang jual mangga yah?” tanya Dian. Sebetulnya saya rada terkejut juga. Istriku ini belum tahu ya soal Harumanis Probolinggo. Ya sarangnya mangga itu ada di Kabupaten Probolinggo ini. Kamu pura-pura nggak tahu ya? Ngetes kecerdasan suamimu ini?

Cek maps. Ah sisa 40km lagi ke TKP. Saya bisa sedikit bersantai. Ngopi dululah. Enggak dikejar waktu ini.

Pukul setengah sepuluh malam. Jalan lagi. Enggak ngebut-ngebut amat seperti sebelumnya. Satu hal yang saya amati dari Rute Bangil – Probolinggo, always stay in the left lane. Bus dan segala macam tronton pasti ada di jalur tengah atau kanan. Mau masuk jalur kanan? Prepare to get wild. Jalurnya berombak kayak surfing. Paling benar di kiri.

Bahkan sampai gigi 4 Rpm 9, ya di kiri. Kiri itu jalur cepat. Mobil dan motor lain yang mau nyalip, semua lewat kiri. Nekad ke jalur kanan, ya loncat-loncat seperti diterjang ombak.

Selepas Probolinggo, refueling di Kraksaan. Makin malam, jalanan malah makin ramai sama truk.

Ya untung sih KZX baru turun mesin. Desingan suara camshaft dan deru knalpot berpadu dengan suara angin memang sungguh nikmat. Malah kadang ada tambahan suara teriakan yang tertahan dari belakang kala KZX dipacu dengan kencang demi melewati dua-tiga truk sekaligus.

Hey, ngebut boleh. Yang nggak boleh itu ugal-ugalan. Dua hal itu sangatlah berbeda. Klakson, sein, dan dim. Tiga hal itu yang selalu saya lakukan. Saya nggak pernah manuver mendadak macam pengguna matic. Pada dasarnya karena KZX emang tidak bisa seperti itu. Terlalu rigid sasisnya. Mau ngegas spontan juga nggak bisa. Mbrebet.

Memang settingan jarum karbunya rada bermasalah. Sekalian aja dibikin boros. Daripada mesin overheat. Ayun trotel gas perlahan, ntar juga nyampe RPM 8. Dan saya tertawa dalam hati. Smooth, bukan lemot. Seperti kata Vandra di artikelnya itu lho… Satisfaction guaranteed.

Hotel Syariah Juara Kelas

Pukul 10 lewat sedikit. Sampailah saya di TKP. Hotel Cerah di kawasan Paiton. Lelah? Ya wajarlah. Tapi saya enggak ngantuk. Sepertinya gara-gara saya sudah tidur kelamaan di kereta.

Ini Hotelnya macam kosan. Bukan kamar-kamar, tetapi macam komplek perumahan. Ternyata Agoda tidak bohong. Rate kamar paling murah adalah Rp 125.000. Saya memilih yang Rp 150.000. Karena ada pajak 10%, jadi Rp 165.000. Bedanya sama yang paling murah apa? Yang ini ada air panasnya. Ya udah itu aja. Ada juga rate yang paling mahal. Rp 400.000. Dapatnya benar-benar satu rumah. Isi dua kamar dan ada ruang tamunya. Cocok ini kalau rombongan sampai 10 orang. Kena cuma 40.000 seorang. It’s a steal!

Ada satu cerita lucu kala check in. Masuk lobby, tentulah kalau Check In harus kasih KTP. Saya kasih KTP, si Mbaknya minta KTP Dian juga. Apa perlu dua KTP? Ah ya nggak masalah.

“Anu Mas… Ini nggak bisa satu kamar ya,” ujar Si Mbak.

“Lho kenapa? Emang kamarnya kecil banget?”

“Emm.. emm… Ini Mas-nya sama Mbak-nya kan belum nikah ya. Kalau belum nikah, nggak boleh satu kamar,” lanjut Si Mbak.

Wah. Ini hotel. Udah mana bagus, murah, syariah pula. Untungnya saya bawa Buku Nikah.

“Kita baru aja nikah Mbak. Ini bukunya nih,” tanggap saya sembari memberikan Buku Nikah saya dan Dian. “KTPnya belum diganti Mbak. Wong nikahnya aja kemaren.”

“Ohhh… Umm… Maaf Mas, Mbak, boleh saya cek dulu?”

Ya jelas bolehlah. Masa saya tidak boleh melewatkan malam bersama istri tercinta. Apapun akan kulakukan Beb.

“Oh ya maaf ya Mas. Kita jaga-jaga aja. Mari saya antar ke kamar.” Jujur saya bisa melihat sipu malu si Mbak Resepsionis. Bukannya kesal, saya salut saja sama hotel ini. Ini reccomended pisan lah.

Sesampainya di kamar, saya segera menghempaskan diri ke kasur. Ahh, nggak kerasa sudah 150km lebih. Ini baru hari pertama. Kirain Surabaya – Paiton deket.

Ternyata emang.

“Yah… Kasurnya berisik,” komentar Dian.

Nggak masalah juga wong Dian lagi ritual bulanan. Makanya saya bawa jalan-jalan lintas Pantura naek motor. Kalo enggak begini, terus saya mau ngapain?

hotel cerah
Penampakan Hotel Syariah

**Tulisan ini adalah bagian kedua dari Honey Ride Series. Sekuel dari IGNITE.

Klik disini untuk membaca lanjutannya -> Part.3

Iklan

6 pemikiran pada “[J]OYRIDE

  1. Ping-balik: [E]NTREE | [MOUNT]
  2. Ping-balik: [N]EXUS* | [MOUNT]
  3. Ping-balik: [I]GNITE | [MOUNT]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s