[E]NTREE

People said, a picture worth thousand words, and a video worth thousand pictures. So maybe there’s millions words on this article. Take your time. I dare you! I double dare you!

Ini adalah tulisan ketiga di serial HoneyRide. Sebelum lanjut baca note ini, pastikan kalau kalian sudah membaca:

Part 1 IGNITE

Part 2 JOYRIDE 

Hari kedua di HoneyRide. Seharusnya hari ketiga, tapi yang di kereta nggak usah diitung. Kami di Paiton yang bukan ular, tapi sebuah kota kecil di Jawa Timur. Tempat ini terkenal dengan PLTU-nya yang amazing. Terakhir kali riding melewati sini tahun 2011, sekitar pukul 2 pagi. Cahaya dari pylon-pylonnya gemerlapan. Seperti bintang bertaburan.

Tapi kali ini kami lewati siang-siang. Tetep aja amazing. Meski panas terik khas Pantura. Ya namanya juga naik motor. Kan enaknya naik motor, kalau panas nggak kehujanan. Kalau hujan nggak kepanasan.

Pagi-pagi, terbangun di Hotel sekitar pukul tujuh pagi. Tapi biasalah, ketiduran lagi sampe pukul sembilan. Nggak dikejar waktu. Nggak dikejar utang juga. Bisa santai. Bebersih, mandi, cek busi motor. Ah keputihan dia. Padahal udah dibikin boros setelan karbunya. Berarti emang semalem ngegasnya yg terlalu ekstrim. RPM tinggi terus.

img_0696
Hotel Cerah Paiton

Selesai beberes dan repacking. Angkut barang dan bawa ke motor. Menuju lobby buat check out dan sarapan. Iya kita dapet sarapan gratis. Meski cuma nasi, telur, dan sambal. Nggak bisa protes sebenarnya. Hotel bagus, bersih, murah. Udah menang banyak. Yang penting nggak keluar dengan perut lapar.

Pukul sebelas. Kami jalan lagi. Perut kenyang. Suasana senang. Bensin fulltank. Tujuan kami hari itu sampai ke Paltuding. Rutenya, Paiton-Besuki-Bondowoso-Sempol-Paltuding. Dari Paltuding, jalan kaki sampai kawah Ijen. Rute di maps menunjukkan 140km lagi. Hampir seperti Jakarta-Bandung. Tapi kan medannya (saat itu) kita belum tahu.

Selepas melewati PLTU Paiton, kami memasuki Situbondo. Nggak lama, Kota Besuki. Saya ingat kota ini. Sebelum mendaki Argopuro 2014 lalu, kami turun bus di terminal Besuki. Belanja di Pasar Besuki, lalu naik ojek sampai Baderan.

Nah waktu HoneyRide, kami juga menyempatkan diri ke Besuki. Bukan buat belanja ke pasar. Tapi buat mampir ke sebuah Bank. Setor uang. Karena jujur saja, saat itu saya membawa seluruh uang hasil amplop dari acara nikahan. Kalau saya waras, bisa saja saya beli motor baru, cash, touring pakai motor baru. Untung udah gendheng. Jadi uang kami selamat di Bank semua.

Selain itu acara lain di Besuki adalah, ganti kulit jok. Mestinya dari sebelum berangkat pas di Bandung udah diganti. Emang udah sobek sobek. Makin dibawa jalan, makin bikin pantat panas. Memang sudah waktunya. Kebetulan motor saya plat B. Jadi ganti jok di kota yang awalan B juga. Gak jadi di Bandung, ya Besuki.

Route of Joy

Pukul setengah satu siang. Lanjut jalan lagi. Belok via jalur Wringin. Ini bukan jalur alternatif. Buat kalian yang mau bermotor ke Ijen atau Bondowoso, memang lebih baik lewat jalur ini. Pertamanya sih lurus-lurus aja membelah sawah. Eh lama-lama, seru lewat sini. Kenapa? Liat deh videonya di -> https://www.youtube.com/watch?v=cmR…

Intinya, jalur Wringin adalah hiburan setelah kelamaan ngegas lurus di Pantura Jatim. Medan hutan jati dan menanjak. Aspal mulus. Marka jelas. Ada yang markanya belum ada (Okt 2015), kayaknya baru diaspal. Tikungannya masih enak buat dinikmatin. Ada beberapa hairpin dengan blindspot batu-batu gede. Klakson dulu biar nggak cilukba sama bus. Cuman kalo malem sih, beda cerita. Enggak ada penerangan jalan sama sekali.

Berhubung motor saya gear belakang turun 2 mata, bawa boncengan, bawa barang, ya wajarlah akselerasi drop. Dinikmati aja walau kurang nampol buat nyalip, kudu bener-bener perhitungan dan ancang-ancang dari jauh. Maklum belum kenal medan. Sesekali istri tercinta menjerit-jerit di belakang kala nikung ato takeover. Padahal mah udah perhitungan. Doi aja lebay. Hehe.

Udah aja gitu. Kita masuk Bondowoso sekitar pukul setengah dua siang. Karena laper dan capek gara-gara kepanasan, jadilah ngaso dulu. Makan. Minum. Ngopi. Kayaknya ngasonya kelamaan. Pukul tiga kami baru jalan lagi.

Nah ini dia rute yang asoy. Keluar dari Kota Bondowoso, ketemu kota kecil namanya Wonosari. Disinilah pertigaan menuju Ijen. Kalau lurus terus, ke Kota Situbondo. Ke Ijen, belok kanan. Tapi sebelum belok, isi bensin dulu. Diatas nggak ada pom lagi soalnya.

Abis ngisi bensin fulltank. Kami lanjut lagi. Masuk rute Ijen. Aspal mulus. Datar. Sepi pula. Paling sesekali villager lewat. Tapi saya nggak bisa ngebut. Anginnya itu. Datang dari samping. Perlu usaha buat stabilin setang buat lurus. Padahal ini ZX-130. Motor bebek paling stabil. Paling berat. Tapi saya ngerasa ini motor kok makin lama makin geser. Padahal ini motor udah dikasih ekstra beban satu kuintal dari bobot saya, Dian, dan barang bawaan.

Abis dari Windy Route ini, ada satu Desa Besar, ya sebut saja begitu. Sukosari namanya. Saya berhenti dulu. Beli tali pengikat barang di sebuah toko variasi. Perlu kalian-kalian ketahui, dari Paiton, Besuki, Bondowoso, hingga Wonosari, setiap bengkel dan toko modifikasi yang saya sambangi, nggak punya. Eh di Desa Sukosari ini malah ada. Lucu. Padahal udah hilang harapan dan kepikiran, ini barang bakal ditaro di dek depan sampe ujung perjalanan nanti. Berhubung tali pengikatnya udah dapet, berarti behel belakang buatan Mas Nawan bisa kepake.

Ujung peradaban Sukosari ditandai dengan Indomart. Mau belanja di minimarket? Ini yang terakhir. Selepas ini, melewati desa-desa dan hutan. Dari hutan karet, hutan produksi, sampai hutan pinus. Jalanan mulai menanjak. Nggak terjal sih, tapi tanjakannya panjang-panjang. Untung aspalnya mulus. Ya ada beberapa spot yang hancur lebur. Tapi abis itu, udah aja bagus lagi.

Lalu bagaimana kalau motor tiba-tiba kehabisan bensin. Atau ban bocor. Atau apalah. Ya untung sih kami tidak mengalami hal hal tersebut. Cuma herannya, di tengah hutan ada aja tukang tambal ban + bensin eceran.

World Class Cafe

Hutan terasa sangat panjang. Menanjak terus. Masukin gigi tiga, nggak mau. Cuma mau gigi dua. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Saking rimbunnya, matahari sampai enggak tembus. Kayak udah gelap. Kayaknya manusia cuma saya dan Dian saja.

Setengah jam berlalu, hutan mulai terbuka. Ternyata kami mulai menuruni lereng. Jalanan menurun, dan ada portal. Selamat datang di PTPN XII KALISAT – JAMPIT. Emang kudu berhenti dulu, say hay sama satpam. Isi buku tamu. Lalu titip uang seikhlasnya. Wajib itu. Meski nggak diminta.

img_0725

Di samping pos satpam, ada pelataran parkir dengan beberapa meja dan bangku panjang. Saya terperangah. Ini viewnya… Sukar buat dilukiskan. Ijen Cafe. Saya nggak bohong. Ada warung dengan plang nama seperti itu disana. Berarti memang baiknya berhenti dulu. Pesan kopi Jampit Arabica yang sohor itu. Rasanya? Pahit. Namanya juga kopi. But everything feels sweeter when you’re around, Dear. Sayang Dian nggak suka ngopi. Jadi saya sendiri aja yang ngopi. Biar dia yang motoin saya lagi ngopi.

Ngomongin soal kopi, di dataran tinggi Ijen ada dua perkebunan kopi arabika. PTPN XII Kalisat Jampit dan PTPN XII Blawan. Mungkin ada perkebunan lain, tapi saya cuma lewatin dua itu. Kebetulan dua perkebunan itu yang terkenal akan produksi kopi arabikanya. Sampai sampai ada yang namanya Java Microsystems. Itu gara-gara dua perkebunan ini. Sumbernya Kopi Jawa ya dari sini!

Lanjut lagi nih. Tanya-tanya satpam, dari portal Kalisat-Jampit ke Paltuding jaraknya 17km. Ternyata emang bener segitu. Ada milestone penunjuk arah. Katanya sih bisa sampe dalam setengah jam. Cuman biasanya yang namanya villager suka rada beda perhitungannya sama kita-kita. Ya amannya dikali tiga. Berarti satu setengah jam. Saat itu waktu menunjukkan pukul lima sore. Bakal sampe Paltuding gelap nih. Kalo bisa lanjut terus. Jangan berhenti lagi sampe Paltuding.

Tapi eh, ternyata saya berhenti lagi. Lima kilometer dari Pos Kalisat, ada Desa Besar. Desa Sempol. Saya emang berhenti dulu di Masjid. Kewajiban coy. Desa Sempol ini adalah tempat dimana penginapan berada. Kalau kalian-kalian mau ke Ijen, baiknya cari penginapan di Sempol. Ratenya di angka 300.000 – 500.000 per kamarnya. Kalo saya? Skip. Terusin sampe Paltuding. Trus nanti tidurnya dimana? Udah baca dulu makanya sampe selesai.

Charge of Darkness. Again…

Jarak Sempol – Paltuding masih sekitar 12km. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Langit mulai memerah. Sempol ini berada di tengah-tengah cekungan yang mungkin dulunya kaldera utama pegunungan Ijen. Jadi ya dikelilingi gunung. Ya dingin. Padahal masih ada matahari. Gimana kalo udah gelap? Makanya… Yuk ah cus lagi.

Selepas Sempol, ada pos satpam lagi. Masuk ke PTPN XII BLAWAN. Ya isi buku tamu lagi. Cuma kata Mas Satpamnya, nggak usah bayar-bayar lagi. Udah di depan kan? Oh yaudah. Tapi kalo mau ngasih lagi juga nggak dosa sih. Lanjut. Melewati jalur yang kiri kanannya pohon kopi yang rimbun. Sayang bukan lagi musim panen. Jadi ya ijo-ijo aja semua.

Kalau mau jujur, saya rada nyesel juga sampai disini sudah mau gelap. Banyak banget spot dengan pemandangan keren. Kayaknya bisa setiap kilometer berhenti, foto-foto. Cuma ya karena langit sudah jadi ungu. Apa boleh buat. Next time deh. Lagipula karena kemarau, rumputnya jadi kuning. Malah beberapa ada yang terbakar dan gosong. Memangnya kalau lagi musim hujan kayak gimana sih pemandangannya? Buka google dan ketik “Kawah Wurung”. Jangan salahkan saya kalau kalian jadi mau kesana.

Karena udah gelap, naik motor pun nggak bisa asal gas. Belum kenal medan. Ya sembari menikmati pemandangan juga sih. Cuman hati-hati, ada tiga spot (saat itu) dimana jalan tertutup pasir tebal. Yang pertama saya hampir zonk dan nyusruk ke semak. Gimana enggak kaget. Abis tanjakan, tau-tau pas turunan lagi kenceng-kencengnya ada pasir. Tebalnya hampir 20cm. Kalau udah begini, nggak mungkin ngerem dong. Tetep gas sembari berdoa berusaha menstabilkan setang. Dian sampe ngomel. Bukannya disengaja, kalo nggak dikebut yang ada motor nyangkut. Worst case scenario, nyusruk. Gitu alasannya sayang…

Karena udah ketemu yang model begitu, biasanya bakal ada lagi. Ternyata emang. Ada dua spot lagi dimana pasir berhamburan melapisi jalan. Yah udah tahu triknya sih, jadi digeber aja konstan. Pokoknya jangan ngerem. Saya nggak mau stuck dan dorong-dorong motor di pasir, di tengah cuaca gelap dan dingin pulak.

Akhirnya ya akhirnya, kami sampai di Paltuding sekitar pukul setengah tujuh malam. Banyak warung-warung. Tapi kami harus ke pos penjagaan dulu, sekalian parkirin motor. Ada tempat parkir khususnya. Beratap dan Insya Allah aman. Parkirin motor, samperin petugas. Tanya soal penginapan. Ya nggak ada penginapan dong di Paltuding. Terus bagaimana caranya kami melewati malam yang dingin ini. Jawabannya, tenda.

Ah tahu bakal buka tenda, saya pakai tenda punya [MOUNT]. Ini harus sewa dengan harga Rp 150.000 semalam. Lalu buka tendanya di camping ground. Lapangan luas di seberang warung. Dingin mas, saya minta tendanya dipindah di samping warung aja. Biar kalo laper, ya tinggal masuk warung. Kalau dingin, ke api unggun.

img_0779

Saya bertanya-tanya dalam hati. Ya kalau orang macam saya sih nggak masalah nginep di tenda. Cuman si Dian ini gimana ya? Setelah diusut, nggak masalah sebenarnya. Cuma dinginnya aja yang nggak ketulungan. Apalagi Ijen lagi musim angin kencang. Tenda udah kayak digebukin Tyson. Lah ya namanya juga kehidupan suami istri. Panas terik, hujan badai, kita lalui bersama. Kata Siti Nurhaliza sih gitu.

Mungkin ada yang bilang, saya tega. Orang mah bulan madu dibikin lucu, ini malah nyiksa istri. Ya ini sebenernya berdasarkan perhitungan dan logika. Sebabnya, Pendakian Ijen baru dibuka pada pukul tiga pagi. Ada kesempatan buat menikmati Blue Fire, kalau memang kondisinya memungkinkan.

Sekarang seandainya saya menginap di Sempol, gimana caranya saya sampai di Paltuding jam segitu naik motor. Mengingat jalurnya kebun kopi dan sabana luas. Bukan hantu yang saya takutkan, tapi babi. Tambah lagi kalau ada babi, tentu ada predatornya. Panther. Jam keluarnya Panther jam berapa? Ya malem. Masa lagi naik motor tiba-tiba diseruduk babi atau diterjang Panther. Bisa masuk headline Kompas nanti.

Refrigerator

Nggak bisa tidur saya di dalem tenda. Padahal saya lihat, Dian sudah terlelap. Memang cuacanya dingin. Dian yang sudah pakai jaket dan baju berlapis lapis masih terlihat kurang nyaman dan sesekali menggeliat. Saya entah kenapa nggak merasa terlalu dingin. Nggak bisa tidur karena terlalu excite. Beneran deh.

Pukul setengah sembilan malam, saya memutuskan keluar dari tenda. Keluarin kamera. Stargazing, sembari meratap, kenapa saya nggak bawa tripod. Alasannya emang satu-satunya tripod yang saya punya cukup besar dan berat. Apalagi ini trip bermotor. Naro tripod malang begitu pasti menyulitkan manuver.

img_0774
Cuma handheld. Coba kalau ada tripod…

Ah well, next time saja stargazing lagi. Lapar, saya ke warung. Pesan makan. Saya tawarin Dian makan, dia nggak mau. Katanya nanti aja pas mau jalan. Ya sudah kalo gitu. Kopi dan mie rebus panas saja saya pesan. Enggak sampai 5 menit, sudah dingin. Gini, biasanya kalau makan mie rebus yang panas, diangkat, lalu ditiup. Kalau waktu disana, cukup diangkat. Gausah ditiup. Itung sampe 10. Selamat menikmati mie rebus yang serasa baru dikeluarin dari kulkas.

Saya yang saat itu nggak ngerasa kedinginan, tambah lagi baru makan, lanjut mondar mandir di areal gerbang Ijen. Penjaga warung dan beberapa orang petugas yang pada kedinginan pada mampir ke api. Ah iya, ada banyak warung. Dan tiap warung punya api masing-masing. Kebayang nggak suasananya? Kalo enggak kebayang, ke Paltuding sana. Liat sendiri.

“Mas, sini dulu mas. Ngadem,” ujar seorang bapak. Biasanya kita-kita ini mengasosiasikan istilah ngadem dengan berteduh saat cuaca terik. Tapi di Paltuding, beda. Ngadem, adalah suasana yang nyaman. It’s about comfort. In this case, near the fire.

“Adem, adem, adem. Enak Mas,” ujar Bapak itu lagi sembari menggosok-gosok tangannya mendekati api.img_0776

Sekitar pukul sembilan lewat, saya balik lagi ke tenda setelah ngadem dan ngobrol-ngobrol dengan beberapa warga setempat. Dian masih tidur, tapi sadar ketika saya masuk tenda. Dengan otomatisnya dia memeluk saya. Lalu… Ah ini bukan tulisan stensilan. Nggak usah saya ceritain lagi.

The Elephant That Lay Eggs

Pukul setengah sebelas, saya mendengar keributan dari sebelah. Ternyata ada rombongan baru yang datang. Sudah tidur sekitar satu jam, eh jadi kebangun lagi. Nggak bisa tidur lagi. Dari kasak kusuk yang saya dengar, eh ternyata mereka rombongan bermotor juga.

Setelah tenda sebelah tenang dan sepertinya terlelap, saya keluar lagi. Eh ternyata ada tiga buah Scorpio lama dengan tangki kotak yang diparkir di belakang warung. Dua plat B, satu lagi Plat T. Lucunya, tiga orang ridernya tidur dalam tenda, tapi kaki mereka keluar semua. Ada tiga pasang sepatu yang nongol dari resleting tenda. Kayaknya badak-badak semua ini orangnya.

“Mas, ini emang lagi sepi ya?” saya membuka obrolan dengan seorang warga yang lagi ngadem di depan api.

“Kalau hari biasa begini, ya nanti ramenya pas udah jam 12 ato satu Mas,” jawabnya. Kalau Jumat ato Sabtu, baru deh rame yang buka tenda,” lanjutnya.

Pikir saya, mereka pasti pada nginap di Sempol. Makanya baru pada nongol dini hari nanti.

“Kalau mau kejar Blue Fire hari ini, jalannya harus cepet Mas. Kayak bule. Jam 3 nanti gerbang buka, langsung naik. Kalau konstan, satu jam sampe. Jam 4 nanti masih keliatan dikit,” ceritanya. “Kemarin malah bukanya jam 4. Nggak ada yang bisa liat Blue Fire.”

Ternyata begitulah Ijen. Gerbang dibuka menyesuaikan kondisi di atas sana. Ada semacam detektor angin dan kadar sulfur. Kalau tinggi, dijamin nggak boleh masuk. Malah seminggu sebelum kami datang, total selama dua minggu Ijen ditutup karena tingginya kadar Sulfur dan aktifnya Gunung Raung, tetangganya.

“Kalau normal sih, jam 12 atau jam 1 gerbangnya udah buka. Bisa santai jalannya kalau mau lihat Blue Fire. Sekarang lagi kenceng anginnya Mas. Disini aja udah kenceng, apalagi diatas sana. Hati-hati yah Mas.”

Selesai mendapat semacam pengarahan lokal, saya pamit. Balik lagi masuk tenda. Berusaha untuk tidur. Ya setelah memaksakan diri, akhirnya bisa. Pukul setengah tiga dini hari, baru saya bangun lagi. Baru deh saya ngerasa dingin yang amat sangat. Wajar sih, baru bangun tidur.

Keluar tenda, nah ini baru keliatan ramenya. Puluhan orang sudah berkumpul di tiap-tiap warung. Siap untuk mendaki. Mayoritas bule. Wajar sih hari biasa. Saya dan Dian juga bergegas. Isi perut dulu di warung. Lanjut ke loket. Administrasinya murah. Rp 5000/orang + Rp 5000 untuk parkir motor.

img_0790

Pukul setengah empat, baru kami mulai mendaki. Rame juga. Tapi yah santai saja sih. Biar pemanasan dulu. Apalagi ini bawa istri kan. Rutenya buat awal-awal sih tergolong enteng. Treknya berpasir halus dan tidak terlalu terjal. Cuma anginnya itu, sekali berhembus, pasir terbang semua. Ah gila. Kayak badai pasir.

“Ung… Sakit perut,” ujar Dian. Lah ini orang bukannya tadi pas di bawah. Kalau seandainya ini terjadi sama saya yang udah terbiasa naek gunung, saya tinggal cari semak. Nah ini Dian kan terhitung baru naek gunung. Coba kita tes.

“Tuh semak sana, enak,” ujar saya sembari ngecek keadaan sekitar. “Nggak keliatan dari jalur,” sorot senter saya ke rimbunan semak di sisi kanan jalur.

Ternyata istriku ini memang tidak manja dan tidak banyak ngeluh. Tanpa pikir panjang, ambil tisu basah, ia langsung masuk ke semak. “Jagain!”

Saya sih senang aja bisa dapet kesempatan duduk-duduk. Bisa nyalain rokok. Lama juga nih urusannya Dian. Rokok sudah terbakar setengah, ia muncul dari semak-semak.

“Ayooooo,” ujarnya ceria. Setelah bertelur, jadi berubah dia. Tadinya mukanya kusam, sekarang cengar-cengir. Langkahnya juga terlihat beda. Lebih enerjik. Nah barangkali tips buat kawan-kawan pendaki yang sudah lelah, cobalah bertelur. Lumayan lho. Ngurangin beban.

Gust Breath

Efek dari buang beban memang terlihat jelas. Dian sekarang melangkah dengan konstan meski jalur semakin terjal. Saya sih daritadi konstan. Bukannya mau sombong, tapi rute Ijen tergolong mudah kalau dibandingkan dengan gunung-gunung yang pernah saya daki. Atau mungkin saya tidak lelah karena ada dorongan moral. Fakta bahwa saya mendaki sebuah gunung dengan istri, mungkin menjadi alasan kenapa saya bisa terus berjalan tanpa lelah.

Semburat jingga mulai muncul di ufuk Timur. Itu tandanya, no Blue Fire. Saya tak peduli. Dian juga tak peduli. Yang penting bisa jalan berdua. Urusan Blue Fire bisa nanti. Saat saya membawa full gear Kamera, Tripod, dan Derry Pratama.

Langit terlihat semakin jingga saat kami melewati yang namanya Pondok Bunder. Aslinya ini warung buat para penambang Ijen. Saat itu kosong. Kenapa? Karena hari itu adalah Hari Jumat. Tidak ada aktivitas penambangan sulfur kalo Jumat. Libur!

Kirain kala matahari muncul, angin akan semakin mereda. Ternyata sama aja. Malah kala angin menghembuskan debu di jalur, makin keliatan aja liukan pasir pasir yang menari dan kemudian menerjang kami. Kadang kala angin lagi kencang, badan serasa ditarik dari belakang. Jangan dipaksa maju terus. Jongkok sembari menghadap ke belakang sembari memeluk Dian. Itu yang saya lakukan. Itu juga yang pendaki lain lakukan. Jangan sok kuat kalo di gunung ya. Ingat itu.

img_0829

Matahari tidak menyinari rute langsung, karena terhalang oleh Gunung Ijen itu sendiri. Alih-alih, sinarnya yang Jingga menerobos ke belakang kami. Langsung menyinari Puncak Raung. Indah ya. Memang. Makanya saya suka naik gunung.

raung

Waktu menunjukkan pukul lima pagi saat saya mengambil gambar diatas. Terangnya udah kayak pukul enam kalau di Jakarta/Bandung. Sekarang jalurnya udah keliatan. Mirip kayak Gunung Lawu via Cemoro Sewu menjelang Hargo Dalem. Bedanya, tanahnya berpasir. Rutenya tidak terjal. Tapi vegetasinya ya begitu. Jarang-jarang.

Ini enaknya jalan malam-malam. Nggak panas. Nggak kerasa, tahu-tahu udah tinggi. Ah senang lah pokoknya. Dian juga senang itu. Bisa keliatan dari matanya.

Jam berapa sih kami sampai ke Bibir kawah Ijen? Ternyata pukul setengah enam yang terangnya udah kayak pukul delapan. Untung sih, mataharinya belum terik.

img_0831
Rute yang dilalui pas gelap-gelapan. Jauh juga ya…

Gimana sih suananya di Kawah Ijen. Saya udah males nulis. Biar foto yang berbicara.

img_0863
Bibir Kawah Ijen
Panoramic View Kawah Ijen
Deposit Sulfur yang ditambang. Kala malam hari, gundukan ini dibakar dan akan mengeluarkan api biru. Blue Fire yang terkenal itu. Kalau mau liat kudu masih gelap dan harus turun ke bawah sana. Nah bayangin aja pas masih gelap gulita mesti ngerayap turun ke bawah situ dan penuh dengan asap belerang. Liat aja manusia udah kayak kutu.
Kesampean juga ni anak ke Ijen.
Udah seneng? Senyam senyum aja terus.
Bisa moto nggak cukup. Carilah istri yang bisa moto. Itu baru cukup.
Selfie sama mantan pacar yang baru aja diputusin.
Gunung Ranti yang tepat berada di seberang Gunung Ijen. Paltuding ada diantara kedua gunung ini.
Mestinya Hari Jumat itu libur bagi para penambang. Mungkin bapak ini cari uang tambahan. Nggak dosa kok pak!
img_0887Ceritanya saya lagi foto-foto, lalu ada bule juga foto-foto. Pake Eos 6D sama 24-105L dia. Ngiler nggak tuh. Selesai foto, saya ajak ngobrol. Eh dia bilang, “you guys wanna take picture together?” Nggak usah ay jawab, langsung ay kasih aja kamera. Lagian dia juga udah biasa pake SLR. Gausah diajarin lagi. ZXZXZXZXZX.

Gimana… Masih mau ke Ijen?

***Tulisan ini adalah bagian ketiga dari Honey Ride Series.

Part 1 IGNITE

Part 2 JOYRIDE 

Final Part -> NEXUS

Iklan

2 pemikiran pada “[E]NTREE

  1. Ping-balik: [N]EXUS* | [MOUNT]
  2. Ping-balik: [J]OYRIDE | [MOUNT]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s