[N]EXUS*

Kalau kau berpikir, “Yang penting itu bukan tujuan. Tapi prosesnya. Perjalanannya.” Maaf saya kurang sependapat….

Alasannya?

Gimana bisa kita jalan kalau enggak nentuin tujuan dulu. Ya nggak?

Tapi bukan berarti tujuannya juga yang utama. Semua harus balance. Enjoy the Whole Trip. Enjoy the Road. Enjoy the Destination. Abis itu pulang. Jangan lupa pulang. Pulang biar bisa menentukan tujuan lagi. Mau kemana lagi berikutnya.

Ini adalah tulisan keempat sekaligus penutup di serial HoneyRide. Sebelum lanjut baca note ini, pastikan kalau kalian sudah membaca:

Part 1 IGNITE 

Part 2 JOYRIDE

Part 3 ENTREE 

Lalu setelah itu kami pun turun dari Ijen. Kembali ke Paltuding. Sungguh ternyata turun lebih ga enak dari naik. Pasalnya rutenya panas terik gerah. Toh tidak sampai dua jam kami sudah sampai lagi ke Paltuding.

IMG_0980
Turun. Treknya panas gerah berdebu.

Lantas apakah berarti karena sudah sampai Ijen petualangan kami berakhir sampai disitu? Jelas tidak. Kan sesuai dengan intro tulisan ini. Going home is another adventure.

Tujuan kami hari itu ke Malang. Nanti biar lanjut naek KA Malabar saja pulang ke Bandungnya. Padahal rencananya balik lagi ke Surabaya. Tapi ya gak apa-apa lah. Biar variasi. Lagipula saya belum pernah ke Malang naik motor. Nggak naik motor sih udah 2 kali!

So pasti jalur yang kami tempuh kembali ke Bondowoso. Padahal banyak sekali godaan untuk turun via Banyuwangi. Deuh, sewaktu turun dari Ijen menuju Paltuding, saya sempat papasan dengan orang Banyuwangi, lantas cerita banyak tentang daerahnya.

Apa nggak menggoda iman tuh?

Tapi itu, ya jadi buat bahan next time saja. Iman memang tergoda. Namun fisik, dompet, dan waktu rupanya tak tergoda. Seakan berteriak dalam kepala, “Woy! Pulang dulu!”

Maka siang hari itu kami membelah jalanan via perkebunan Sempol-Blawan dan tak berhenti takjub akan keindahan panoramanya. Elok, meski di beberapa tempat ada sedikit sisa terbakar. Amukan api musim kemarau. Malah di beberapa tempat terlihat ada kepulan asap.

Shadow Chaser

Alkisah, sampai lagilah kami di Ijen Cafe. Barangkali masih pukul 11 pagi waktu itu. Berhenti dulu. Tergoda buat beli oleh-oleh kacang makadamia yang katanya kacang paling mahal di dunia. Disitu cuma 30 ribu satu toples.

IMG_1005
Foto Ijen lagi sebelum pulang. Ntar kapan-kapan balik lagi.

Nah waktu sedang beli kacang itu, saya dihampiri seseorang. Rider juga. Pakai Scoopy dan ada stiker club Honda mana gitu. Lupa saya.

“Mas mau turun lewat situ?” ujarnya kepada saya sembari menunjuk jalur pulang ke Bondowoso.

Oh ya jelas. Masa ke Banyuwangi. Udah salah arah.

“Ikut bareng Mas. Saya takut sendirian. Belum pernah saya lewat situ,” lanjutnya lagi. Yang setelah saya berkenalan, ternyata namanya Heri jika saya tidak salah ingat. Ia orang Probolinggo. Motornya pun plat N. Katanya sih naik dari Banyuwangi. Kok aneh ya dari Probolinggo tapi lewat Banyuwangi naiknya?

Ya sudah, gak pake lama dan pikir aneh-aneh, saya gas lagi bareng Mas Heri. Pertamanya dia yang di depan. Wah bawa motornya kencang. Atau mungkin saya yang terlalu lelet bawa motornya.

Pas di bagian hutan yang lebat, ia minta tukeran. Sebelumnya ia sering meninggalkan saya, kan udah dibilang saya lemot banget motornya. Mungkin riding sendiri di tengah hutan bikin dia takut. Pikirnya, di belakang motor saya saja.

Okelah, maka saya ambil posisi di depan. Selama di hutan itu, saya cek spion, lah kebalik, jadi dia yang ketinggalan. Pas tadi dia di depan kenceng banget.

Intip spion sampai dia nongol lagi, eh muncul. Gas lagi, ya pokoknya begitu aja terus. Kalau sudah hilang, cek spion sampe muncul, gas lagi. Sampe masuk perkampungan pertama.

Lah kemana tu orang. Lenyap.

Saya berhenti dulu lah sekitar 5 menit sembari menatap ke belakang. Mas Heri dan Scoopy-nya tidak muncul-muncul. Ah saya ingat, di bagian hutan ada jalanan yang memang rusak. Urusan bawa motor memang saya lemot, tapi jalan rusak hajar terus. Jadi lemotnya konstan.

Pikir saya, mungkin dia makin pelan bawa motornya pas rute jalan jelek itu.

Lanjut deh pelan-pelan, nanti paling ketemu lagi. Dan sekitar 15 menit saya berkendara dengan kecepatan 20km/jam dan meminimalisir gas. Namanya juga turunan kan. Doi masih nggak muncul juga.

Hingga pertigaan Sukosari. Ia juga masih nggak nongol. Asli tu orang dimakan hantu apa jangan-jangan dia hantu sih? Lagian aneh amat kalau hantu nongolnya siang-siang. Pake Honda Scoopy pula.

Jika anda Mas Heri (sebut saja begitu sebab saya lupa) dan membaca tulisan ini. Saya mohon maaf yah meninggalkan anda di hutan… Sudah ditungguin loh.

The Elephant Hit by The Bird

Karena targetnya kudu sampai Malang hari itu juga, ya saya ga kebanyakan berhenti. Cuma sekedar ke Alfamart yang sama waktu saya pertama datang ke Bondowoso. Sekalian pesen tiket kereta.

Mungkin belum pernah ada yang pesan tiket kereta di Alfamart itu. Kasirnya bingung, manajer store juga bingung. Alhasil, diajarin dulu cara input tiket kereta di mesin kasir. Ya lumayan lah. Jadi tambahan ilmu buat mereka-mereka barangkali ada juga orang sana yang mau wisata naik KA, kan enak tuh tinggal pesen di mesin. Ga perlu jauh-jauh ke stasiun. Loh stasiun paling dekat di Jember sana.

Pukul setengah tiga saya melewati rute Arak-arak Wringin. Sama saja seperti kemarin. Cukup saya nikmati karena memang saya lebih senang berkendara di rute tikungan. Bukan straight lover, meski motor saya anehnya diberi gear berat. Anomali memang.

Kalau diingat-ingat, saya belum makan semenjak pagi turun Ijen. Ah lapar ini. Bawaannya mulai emosi. Tambah lagi sudah sampai pantura. Makin panas saja ini kepala. Kudu di stop dulu ini. Berhentilah saya sejenak di rumah makan di daerah Kalianget. Pinggir pantai. Ah senangnya melihat laut.

IMG_1023
Gunung Putri Ringgit. Landmark Kota Situbondo.
IMG_1028
Objek foto bokeh sejak 2009.

Leha-leha sekitar dua jam, saya balik lagi ke jalanan. Sudah sunset. Langit mulai jingga saat kami berkendara di rute utara. Melewati PLTU Paiton yang lampu-lampunya mulai dinyalakan. Kondisi jalanan masih sepi. Eh lewat kota Paiton jalanan mulai ramai. Dan macet.

IMG_1042
Let’s hit the road again, Kuroikaze.

Dialah ngapa ini. Sore-sore macet kayak Jakarta Pulang Kantor (JPK) aja. Masa ada istilah Paiton Pulang Kantor (jangan disingkat).

Ternyata ada pembangunan jembatan. Dua hari yang lalu pas lewat situ kan sudah malam. Enggak ada pekerjaan. Bisa kencang gila-gilaan. Sekarang, diam saja menunggu giliran lewat akibat one way. Mungkin ada sekitar setengah jam. Berhenti.

Sebenarnya saya bisa saja melipir trotoar jembatan seperti banyaknya pengguna motor. Ah tapi saya malas. Lagian juga bisa sekalian istirahat. Sementara sudah ratusan motor yang menyerobot lewat trotoar. Hampir semua, kecuali saya dan satu.

Ya, di depan. Ada satu motor juga yang anteng menunggu. Meski ratusan motor melewatinya, ia tidak tergoda buat naik ke trotoar. Padahal saya tahu, ia warga lokal. Motornya plat P.

Pukul enam sore, giliran jalan. Akhirnya mulai maju lagi. Motor mulai dikebut lagi. Saat menyalip motor di depan saya (kawan sepenungguan jalan) itu, saya mengacungkan jempol. Salut. Nggak ikut-ikutan outlaw.

Langit makin merah. Motor saya pacu dengan kencang. Kondisi jalanan sepi dan angin tidak terlalu kencang. Di kejauhan, terdapat kerumunan burung yang asyiknya terbang di sekitaran jalan raya. Ah ya saya paham, mereka berburu remetuk. Itu bahasa Sunda dari serangga-serangga kecil yang suka beterbangan saat sore itu.

Wung… seekor burung bermanuver di jalan raya. Parahnya lagi, ada satu kejadian dimana burung-burung tersebut bermanuver ke arah motor. Reflek saya menghindar. Eh burung di belakangnya ngarah ke helm saya. Reflek lagi dong miringin kepala.

Bruak! Doi nabrak helmnya Dian. Pas di muka. Si burung keliyangan lantas terbang menghindar. Dian ngomel-ngomel. Asli bukannya kasihan, sepanjang jalan saya terbahak-bahak. Kapan lagi sih punya cerita gajah ditabrak burung? Terakhir kali kisah gajah ditabrak burung kan pas jaman Raja Abrahah.

One Last Charge

Saya punya kawan. Dia tak pernah mau riding saat Maghrib. Pokoknya saat langit mulai temaram. Twilight hours, katanya. Lebih baik berhenti sejenak.

“Kalau jam-jam segini mending berhenti. Langit temaram seperti ini bikin mata enggak konsentrasi. Jadi emosi. Mending istirahat dulu sekalian Shalat Maghrib,” begitu pendapatnya.

Secara logika memang masuk akal. Aperture mata kebingungan menyesuaikan diri saat jam-jam itu. Langit mulai gelap, tapi masih ada terangnya. Belum lagi lampu kendaraan dari arah sebaliknya yang bikin mata makin pusing. Kalau enggak percaya, coba deh bandingin riding siang, sore pas mulai gelap, sama malam. Pasti kerasa deh bedanya.

Maka dari itu, saya berhenti di SPBU Kraksaan. Pas juga waktu Shalat maghrib kan. Menunggu sejenak sampai langit gelap total. Baru jalan lagi. Tancap sampai Pasuruan.

Berbeda dengan saat berangkat dimana saya bisa gas motor dengan berapi-api, suasana jalanan saat pulang rada ngeselin. Apa karena sudah lelah jadi emosi tidak stabil? Bisa juga karena jalanan memang ramai.

Melewati Kota Probolinggo sekitar pukul tujuh malam, masih ramai. Skip lanjut. Enggak ada acara apa-apa disini.

Refueling terakhir di rute Probolinggo – Pasuruan. Tidak diisi fulltank. Toh sampai Malang nanti kan masuk kereta. Isi full malah dibuang. Jadi kira-kira aja. Malang sekitar 60km lagi. 15ribu cukuplah.

Harus saya akui, saat di SPBU itu saya sudah lelah fisik dan mental. Letih, bosan, dan sedikit ngantuk. Dian pun sama. Tapi nggak mungkin dong nginap di POM. Jaraknya ke Malang sudah sangat tanggung sekali. Jadilah saya istirahat sejenak. Jelang etape final ini Bos!

Pukul sembilan malam, cabut dari SPBU. Enggak sampai 15 menit sudah sampai kota Pasuruan. Belok kiri. Lupa jalur apa namanya. Cukup sepi tapi masih termasuk jalan utama. Lewatin pabrik OTSUKA yang jelas. Anda yang membaca dan kebetulan orang Jawa Timur kemungkinan tahu rute ini.

Hampir pukul 10 malam ketika saya sampai di pertigaan Lawang. Bertemu lagi dengan rute utama Surabaya – Malang. Asli ngantuk benar-benar tak tertahan. Malah Dian sempat ketiduran di jalan. Terasa dari helmnya yang sering beradu. Nggak baik ini dipaksakan. Maka Alfamart dulu. Kopi dan merokok lagi dong. Hehe…

Saya tahu jalan ini. Pernah saya lewati. Hanya tinggal lurus saja, maka sampai Kota Malang. Mas Riza Herman paling berkata, jaraknya cuma sepelemparan upil. Saya setuju. Maka setelah menghimpun semangat kembali, saya lanjut gas. Ngeng!

Enaknya rute ini, udaranya sejuk. Kayak naik gunung. Dian sampai heran, kok udaranya tiba-tiba adem kayak masuk pegunungan. Padahal rutenya ya begitu, jalan raya antar kota dengan bangunan di sisi kanan kiri jalan.

Seandainya lewat sini siang hari, mungkin udah saya tunjukin megahnya Bromo Tengger Semeru Complex di sisi kiri jalan. Ya pas lewat situ gelap ga keliatan apa-apa. Nikmati aja udaranya.

Pukul 11 malam. Sampe Kota Malang. Sudah sepi kotanya. Cari Hotel. Bobo.

Alhamdulillah. Itungannya finish ini. Tepok tangan dong pembaca…

Epilog: From Paris to Paris

Terletak kurang lebih 90 km diselatan Kota Surabaya dan diapit Pegunungan Tengger di sebelah Timur, dan Lereng Gunung Arjuna di arah utara memberikan udara yang sejuk, terutama di sore dan pagi hari. Alhasil, udaranya yang adem-adem sejuk. Ini Malang. Paris van East Java.

Julukannya memang mirip dengan kota asal kami. Paris van Java. Kok bisa mirip?

Kota Malang setidaknya memiliki beberapa kemiripan dengan Kota Bandung. Keduanya memiliki udara yang sejuk dan nyaman karena diapit pegunungan. Uniknya, Kota Malang mendapat predikat Kota Bunga, sedangkan Kota Bandung mendapat julukan Kota Kembang. Dan satu lagi kebetulannya, kedua kota ini pernah dilalap api hingga hangus pada zaman kemerdekaan dahulu.

Coincidence? I don’t think so.

IMG_1101

Sebagai penutup dari Honey Ride, kami memutuskan untuk jalan-jalan singkat saja di kota ini. Kemarin Dian pesan tiket kereta pukul tiga sore. Daripada cuma diem-diem aja. Mending liat-liat kota, meski nggak bisa jauh-jauh.

Soalnya motornya mau dipak. Kan masuk gerbong…

Jadilah sekitar pukul 10 pagi kami check out dari hotel. Sebelum ke Stasiun Malang Kota Baru, beli oleh-oleh dulu. Macam-macam keripik. Untungnya ada jasa paket. Jadi keripiknya ga usah ditenteng-tenteng. Gimana mau ditenteng wong belinya sampe dua kardus.

IMG_1058
Orang Malang pasti hafal ini dimana.

Lantas setelah beli oleh-oleh, lanjut ke Herona yang posisinya tepat di Stasiun Malang Kota Baru. Oke motor dipak dengan rapi. Sampe dijahit pake kardus dan karung. Berbeda banget perlakuannya sama Herona Bandung. Padahal saya ga minta dibungkus gitu motornya.

Masih pukul sebelas siang. Amannya ada waktu dua jam saja buat lihat-lihat Malang? Setahu saya Balai Kota kan dekat stasiun. Maka jalan kakilah saya kesana bareng Dian.

Ternyata Balai Kota Malang di tengah hari tidak terlalu bagus. Ya saya lanjut lagilah, putar-putar tidak tentu arah. Karena panas dan haus, Dian mengajak saya makan es puter pinggir jalan. Ya sudah, memang terik gini cuacanya. Nikmat nampaknya makan eskrim.

Sembari menikmati kesejukan yang mengalir di kerongkongan ini, saya memperhatikan sekitar. Eh, kok makin banyak yang jual burung?

Ternyata jalan-jalan ngawur saya malah mengarahkan saya ke Pasar Burung Splendid. Padahal nggak direncanakan lho. Jadilah saya putar-putar saja liat burung-burung bagus. Namanya pasar burung, tentu penuh keriuhan dari kicauan dan cicit burung dimana-mana. Splendid!

IMG_1096
Warna Warni di Pasar Burung Splendid
IMG_1087
Take a walk in the bird market
IMG_1086
Burung yang dijual dari yang standar macam begini…
IMG_1094
… sampai Bubo ketupu.
IMG_1098
Burungnya macam-macam, ya jelas pakannya pun macam-macam. Dari biji-bijian…
IMG_1085
… sampai ulat hongkong.

Pasar Burung Splendid sendiri hanya berupa sebuah gang yang cuma bisa dilalui motor. Sebenarnya lebarnya bisa masuk mobil, tapi ujungnya ada sungai. Jembatannya cuma bisa dilewati motor. Lalu setelah itu jalan raya lagi.

Lalu setelah itu kemana? Ah saya ingat kalau ada Toko Es Krim terkenal di Malang. Toko Oen namanya. Apa sempat ya kesana? Saya cek di maps.

Ternyata jaraknya cuma 500 meter dari Splendid. Ah, splendid! Let’s go over there then!

IMG_1059
That legendary store…
IMG_1071
…where we had our lunch…
IMG_1065
…  and the main course. Yes, this is not the desert.

Yang saya dengar, Toko Oen selalu penuh pengunjung. Terutama di jam makan siang. Saat saya datang pukul satu siang. Tapi ya mungkin rejeki, ada saja tempat yang tersedia untuk kami. Well… Maybe it’s called luck. Maybe it’s called fate.

Barangkali tidak sampai setengah jam yang lalu kami berdua makan es krim. Lah ini makan es krim lagi. Tapi masa ke Toko Legend macam gini nggak makan es krim? Ya saya memang bodoh tidak makan es krim lagi. Cuma pesan milk shake. Dian saja yang makan es krim. Dengar-dengar, intelejensi seorang anak itu diturunkan dari ibunya. Jadi enggak masalah saya tidak makan es krim kan?

Icip sedikit es krim punya Dian, rasanya unik memang. Berbeda dengan es krim biasa yang punya rasa susu yang kuat dan tekstur creamy, es krim buatan Toko Oen terasa ada rasa-rasa telur. Mungkin adonan es krim tradisional pakai kuning telur ya? Teksturnya pun berbeda dengan buatan pabrik.

Neveretheless, petualangan singkat kami di Malang memang harus kami sudahi. Sudah pukul dua siang. Kereta kami berangkat satu jam lagi. Dan kami harus berjalan kaki lagi sampai ke Stasiun Malang Kota Baru. Waktunya pulang dulu. Pulang agar bisa menentukan tujuan, mau kemana lagi selanjutnya.

Ah senangnya punya istri yang bisa diajak jalan-jalan jauh. Naik kereta api jauh, naik motor jauh, hingga jalan kaki jauh pun tidak mengeluh. Perjalanan ini, Honey Ride, membuktikan saya. Ternyata saya tidak salah pilih pendamping hidup. Dan tentunya hal ini membuktikan. Menikah bukanlah akhir dari petualangan. Malah, ada teman baru dalam bertualang. You got that right!

IMG_1114

Jakarta, 18 April 2016

*Nexus: 

noun nex·us \ˈnek-səs\ : a relationship or connection between people or things

Tulisan Honey Ride ini terbagi dalam empat bagian ini

[I]GNITE -> baca disini

[J]OYRIDE -> baca disini

[E]NTREE -> baca disini

[N]EXUS -> ya artikel ini coy

Mungkin ada yang sudah sadar ya kenapa judulnya aneh-aneh… Hehehe…

Ekstra – Honey Ride Refueling Review

Pom 1 Surabaya 54.601.110:

Fulltank 3.289 liter

Rp. 29.930

Starting point: 0km

Pertamax Rp 9.100/liter

 

Pom 2 Kraksaan 54.672.09:

Isi Fulltank 3.53 liter

Rp 32.123 Pertamax

Rp 9.100/liter

Jarak tempuh Surabaya – Sidoarjo – Kraksaan = 145km

Konsumsi bensin Pom 1 – Pom 2 = 1 : 41,08

 

Pom 3 Bondowoso 54.682.06:

Isi Fulltank 1.89 liter

Rp 16.916

Pertamax Rp 8.950/liter Jarak tempuh

Kraksaan – Wringin – Bondowoso = 80.5km

Konsumsi bensin Pom 2 – Pom 3 = 1 : 42,6

 

Pom 4 Bondowoso 54.682.06:

Isi Fulltank 3.36 liter

Rp 30.072

Pertamax Rp 8.950/liter

Jarak tempuh Bondowoso – Sempol – Paltuding – Bondowoso = 106,8km

Konsumsi bensin Pom 3 – Pom 4 = 1 : 31,8

*note: ini rute terboros, sebab pom bondowoso berada di ketinggian sekitar 200mdpl. Kami harus mendaki menuju Paltuding, basecamp Ijen. Berangkat dari Pom setengah 3. Rute yang dilalui berkelok dan menanjak hingga Pos Kalisat di ketinggian kira-kira 1500mdpl. Kemudian rute menurun rata-rata di ketinggian 1200-1300mdpl dari Sempol-Blawan dan kembali menanjak menuju Paltuding di ketinggian kira-kira 1700mdpl.

 

Pom 5 Grati 54.671.38

Tidak fulltank. 1.67 liter

Rp 15.000

Pertamax Rp 8.950/liter

Jarak tempuh Bondowoso – Wringin – Probolonggo – Grati : 122km

Konsumsi bensin Pom 4 – Pom 5 = 1 : 40km*

*note: Rutenya sama dengan etape 1-2. Karena enggak ngisi fulltank, jadi susah ngitung konsumsi bensinnya. Yang jelas jarum udah di E. Kenapa nggak ngisi full? Soalnya sampe Malang kan motor mau naek kereta lagi. Bensinnya dibuang. Sayang. Perkiraan Grati – Pasuruan – Malang, segitu cukup. Kayaknya deket. Ternyata emang.

 

Malang

Tidak isi bensin

Jarak tempuh Grati – Pasuruan – Lawang – Malang: 71km

Konsumsi bensin Pom 5 – Malang = 1 : 40km*

*note: Pengukuran konsumsi bensin sampai Malang memang rada ngawur, tapi sebenernya bisa pake logika. Soalnya waktu motor dipak oleh Herona, bensin disedot. Yang keluar cuma sedikit. Asumsinya, bensin sudah hampir habis. Paling tersisa 500ml di dasar tangki+selang+karbu. Dengan begitu kita ambil kapasitas fulltank 3.7 liter saat diisi full tank di Bondowoso + 1.67 liter di Grati. Anggaplah 5.37. Dikurangi 500ml = 4.87 liter. Dibagi dengan jarak tempuh Situbondo – Malang yang berarti 122 + 71 = 193km. Jarak tersebut dibagi jumlah total bensin tersebut, didapatlah 39,63 yang dibulatkan 40. Masuk akal ya?

 

Total

Jarak tempuh total: 525,3km

Total pembelian bensin: 13,739 liter

Total biaya bensin: Rp 124.041 -> dibulatkan Rp 125.000

Total konsumsi bensin = 1: 38,234km

Total biaya per kilometer: Rp 236,13

route
Honey Ride Route

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “[N]EXUS*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s