The [M]ERCURIAL PATRON

Singkat saja mendaki yang satu ini. Fast In. Fast out. Pukul 2 malam jalan dari basecamp, pukul 11 siang sampai Puncak Barameru, pukul 6 sore sudah sampai basecamp lagi. Ngebut? Boro-boro. Itu sudah pakai acara ketiduran pulas nyenyak plus diculik warga setempat.

Ah mau dimulai dari mana kisah ini?

Ya ya tiap perjalanan pasti ada permulaannya. Dan pendakian Merapi Juni 2016 ini, bisa jadi gara-gara Alfred Wanimbo, kawan saya yang dari Timur Jauh itu. Kami sudah sering mendaki bersama. Dimulai dari Semeru, Merbabu, Rinjani, dan paling terakhir Argopuro, taun 2014 itu.

IMG_0582
Pacekap Alfred “Yakleb” Wanimbo. Waktu di Argopuro.

Nah ya karena terakhir kali ia mendaki itu tahun 2014, Pace Yakleb, begitu nama samarannya, merengek kepada Dzaki, kawan saya satu lagi yang juga admin dari [MOUNT] ini.

“Sa pu kaki su gatal hey, ingin gocek gunung lagi kha apa?” ucap Alfred.

Dari situlah, Dzaki mengabari saya. Tanpa tedeng aling-aling memberikan message via LINE. ROP Merapi.

“Ikut ngga? Kalau mau ikut transfer duit tiket,” Dzaki langsung menembak saya. “Ga usah cerita sama yang lain, mau bawa turis hitam ini,” lanjutnya.

Dipikir-pikir ya, sudah lama tak naik gunung juga saya. Kebetulan dapat kantor yang pekerjaannya fleksibel. Bisa dilakukan dimana saja asal ada laptop dan koneksi internet. Ga perlu ajuin cuti segala. Makanya saya iyakan.

Satu lagi pertimbangan saya, kan saat itu (Mei 2016) istri saya sedang mengandung 7 bulan. Kalau anak sudah lahir, bisa-bisa nggak dapat kesempatan jalan-jalan dulu. Kan ada maenan baru.

Yaudah gas ajalahhh…

 

Rute Laknat

Jumat malam, 3 Juni 2016. Sayapun sudah sampai lagi ke kotamu. Yogyakarta itu. Yang katanya jadi makin hype gara-gara filem eekdisini tuuh.

Kok tiba-tiba udah di Yogyakarta. Ya saya skip saja perjalanan saya di kereta api Gaya Baru Malam Selatan yang membosankan itu.

Jadi begini… Saya, Dzaki, dan Aisha berangkat dari Jakarta. Kok ada Aisha? Nah itu pasti ulah Dzaki. Hey kawan, cepat-cepatlah kau tangkap itu Aisha. Mau hattrick 3x ditinggal kawin?

Lanjut, ada Alfred bawa kawannya dari Bandung, Bang Uki. Dokter gigi juga. Loh saya belum bilang ya kalau Alfred itu dokter gigi?

Nah terakhir ada Genta. Kawan Dzaki yang memang sedang kuliah di Yogyakarta. Malam itu, kami semua sudah berkumpul di rumah kawan saya Ivan dari Jozxy. Dia nggak ikut naik. Saya cuma mau pinjam Kawasaki ZX130 punya dia. Hehe…

zxmonster
Noh ZX yang saya pinjam. Warna merah.

Rencananya, malam itu langsung gas menuju Selo, basecamp Barameru. Pakai motor. Dua motor sudah disiapkan Genta. Berhubung kami enam orang maka dari itulah saya harus meminjam satu motor lagi. Toh kalau daerah Yogyakarta tidak sulit. Kontak satu kawan Jozxy, sudah banyak yang mau meminjamkan.

Untuk mencapai Selo, rute yang ditempuh paling dekat via Ketep Pass. Naik naik terus. Rute menanjak dari Muntilan. Untung sudah dicor. Enaknya lagi, ZX si Ivan sudah pakai HID. Asli jalanannya gelap banget. Istilahnya Dzaki kalau ada jalanan gelap, “kayak mau dimakan hantu!”

Sebelum mulai menanjak ke Selo, kami sudah repacking di minimarket. Kami semua niatnya jadi turis. Ngga ada yang bawa carrier. Saya malah sudah niat banget maunya foto-foto, sampe niat bawa tripod. Alhasil, Genta yang memang paling junior jadi obyek penderitaan saja. Segala macam barang dimasukin ke tas doi. Oke, pukul 21:30 WIB, kami mulai meluncur.

Nah kembali ke perjalanan kami ke Selo,  pikir saya, kami bakalan sampai sekitar pukul 12 malam, check in di pos pendakian, dan langsung mendaki. Rencana awalnya Sunrise di sekitaran Pasar Bubrah, sukur-sukur sudah sampai puncak. Turun dari puncak, istirahat, lalu turun sampe bawah lagi sekitaran Dzuhur.

Kenyataannya? Semua berubah gara-gara Rute Laknat yang satu ini.

Kondisi jalur dari Muntilan sampai Ketep Pass sih asyik saja. Ehh, pertigaan Ketep kami kan belok kanan. It’s freakin’ hell. Rusak parah. Tambah lagi sedang dicor. Paling ekstrim saat kami harus melaju di belakang truk molen. Iya jalannya lagi dicor sebelah. Enggak bisa nyusul dong.

Pukul 00:00 WIB, kami masih berada di jalur lintas Selo Boyolali. Entah dimana itu, pokoknya kami sempat berhenti di daerah perkampungan. Istirahat. Ampun-ampunan jalurnya.

Lepas beberapa batang nikotin, kami mulai melaju lagi. Jalanan makin saja rusak. Tambah lagi ada beberapa spot yang dipenuhi kubangan air. Enggak tau dalamnya segimana, hajar saja. Ternyata setengah pelek. Buseng… Untung nggak sampai jatuh. Gas terus!

Sekitar pukul 1 malam, kami masuk daerah Selo. Ada gapuranya. Eh ini motor Ivan sudah hampir E bensinnya. Gila, ZX saya yang saya pikir boros aja enggak ada apa-apanya dibandingin sama ZX ini. Ada kali 1:15 bensinnya. Pasti gara-gara pakai karbu kotak 28mm ini. Open filter pulak.

Akhirnya di malam itu, saya berdoa, semoga menemukan tukang bensin eceran. Ya kalau siang sih mudah. Ini malam ada nggak ya? Oh ternyata ada. Meski harus bangunin dulu yang punya warung. Salutnya, meski si bapak menuangkan bensin dengan terkantuk-kantuk, 1 liter tetap di banderol 7500. Kalau di Jakarta udah asal tembak aja nih.

Nah setelah isi bensin, rada pede lagi. Meski jalanan sekarang udah rada mendingan. Cuma nanjaknya itu ampuuun dah. Dari jalan raya Selo, basecamp Barameru masih sekitar 2km lagi.

 

Stellar Track

4 Juni 2016. Sabtu. Pukul satu malam lewat sedikit lah ya, kami sudah sampai di Basecamp Barameru. Parkir motor, check in pendaftaran, dan makan (lagi). Kalau saya, cek exposure kamera dulu. Siap ngga buat foto-foto malam ini.

MERBABU
Cek dulu exposure. Target Merbabu yang jelas-jelas ada di seberang Merapi. Oke good.

Pukul 02:00 WIB, perjalanan kami mulai kembali. Pasang gigi 1, dan mulai menanjak di jalur aspal.

SELO2
Bintang bintang udah kayak mau ambrol

Kami cukup beruntung malam itu. Cuaca sangat cerah. Kata Mas Henk dan Ivan, sebelumnya selalu hujan. Maka dari itu, saya menanjak dengan hati riang, walau dengkul yang sekrupnya karatan ini minta berhenti terus.

Ternyata ujung jalan yang menjadi pembuka pendakian malam itu berakhir di New Selo. Itu kalau siang keliatan dari jalan raya. Kayak papan Hollywood. Ya jelas, masa sampai puncak mau aspal terus. Memangnya Tangkuban Perahu?

IMG_0495
Kok udah terang? Ya ini ilustrasi aje.

Lepas dari jalan aspal, masuk rute pendakian di sebelah kiri warung-warung. Jalannya beton coran. Ini pasti pas turun enggak enak banget. Ternyata emang.

Rute coran paling enggak sampai 500 meter. Tapi terjalnya itu bisa jadi 30 derajat. Enggak ada ampun. Enggak dosa juga kalau sedikit-sedikit berhenti. Menghimpun nafas.

Selepas jalan coran, baru masuk perladangan. Rute tanah. Ini juga enggak ada enak-enaknya. Terjal. Cukup banyak yang mendaki selain rombongan kami. Saling susul menyusul aja. Kadang istirahat bareng. Jangan dipikir ada pos atau tanah lapang buat istirahat. Cape ya berhenti saja di tengah jalur!

Satu jam berjalan di ladang, kami memasuki pelataran luas. Kirain udah sampai pos satu. Ternyata, itu adalah pintu gerbang Taman Nasional Gunung Merapi. Pelatarannya cukup luas dan ada shelter yang cukup besar. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi.

Istirahat dulu, nah baru mulai lanjut lagi ke Pos 1. Saya berjalan terakhir, sendirian pula, soalnya berangkat paling terakhir dari Pos 1. Solat dulu. Ada kali pukul setengah empat baru jalan lagi. Ternyata lebih sakit jiwa lagi rutenya. Kali ini tanah campur batu.

Nah berhubung jalan malam, enggak keliatan juga rutenya. Asal jalan saja. Cape ya berhenti, jalan lagi. Saya akui, sudah sering mendaki, tapi kalau malam dan sendirian, sering dihinggapi keraguan, ini jalurnya bener enggak? Ironisnya kalau di Indonesia, selama masih ada sampah, tandanya masih belum nyasar.

Kayaknya hampir satu jam berjalan, saya sampai di Pos 1 Watu Belah. Tandanya ada batu besar. Harus dinaekin dulu batunya, lalu turun. Doh dari batu itu ternyata pemandangan ke arah Solo terbuka. Ini kudu difoto!

Pos 1 Watu Belah sendiri ada shelternya juga. Kami yang sudah kelelahan tentu istirahat lagi. Pacekap malah pilih tidur sebentar. Sayamah, foto-foto aja. Kan niatnya mendaki Merapi emang jadi turis poto-poto.

SPIRIT OF JAVA
Solo, The Spirit of Java. Berlatar Gunung Lawu, The Heaven’s Ladder.
MILK2res
Gugus Bimasakti. Difoto dari Pos 1 Watu Belah.
pos 1
Pada tidur sebentar di Pos 1

 

Sunrise Project

Satu hal yang saya udah bayangkan saat mendaki Merapi kala masih di Jakarta adalah membuat timelapse sunrise. Ya saya memang baru kena hype timelapse. Sekalian ngetes skill. Lho ya punya gearnya, kenapa enggak juga dicoba?

Berbeda dengan naik gunung lain dimana saat sunrise saya masih saja terlelap di Tenda, kali ini di Merapi beda. Jelang sunrise, kami malah bergerak. Ya saat itu sekitar pukul lima kurang kala kami mulai mendaki lagi dari Pos 1.

Doh ya jalurnya dari Pos 1 sudah full batu. Scrambling. Dari jauh semburat jingga di awan sudah mulai nampak. Dapet nggak nih sunrise? Sementara kiri kanan jalur masih penuh pohon.

Dengan tenaga dengkul karatan ini saya terus maju. Rombongan terpencar. Genta, Dzaki, dan Aisha di depan. Saya sendiri di barisan tengah. Pacekap yang terkenal powerful di pendakian Semeru dan Merbabu, makin kesini seperti kena downgrade saja. . Di Rinjani dia keram-keram, sekarang di Merapi ngap-ngapan.

“Umur gak bisa boong!” sergah Bang Uki sambil ngos-ngosan juga.

Rute dari Pos 1 ke Pos 2 ini memang sangat curam dan terjal. Nggak bisa asal jalan modal dengkul. Kudu pintar mikir juga, langkah berikutnya mau kemana. Megang batu yang mana. Salah langkah ke batu lepas. Menggelinding nanti.

Makin keatas, makin terang saja ufuk Timur. Ah sudahlah, sedapatnya pemandangan terbuka ke timur, saya mau berhenti. Barang satu jam buat bikin timelapse. Saya sudah bilang ke Dzaki, kalau niat saya memang mau foto-foto, dia gak terlalu rewel buat maksa maju-maju nankatsu. Biar dia jaga Aisha saja.

Hey kawan, jangan kau jaga dia di gunung saja. Tak mau kau jaga di kehidupan rumah tangga?

Barangkali setengah jam berjalan, saya berhasil menyusul rombongan Genta, Dzaki, dan Aisha. Mereka sedang berhenti di tengah jalur, memandang ke arah Timur yang lumayan terbuka.

“Noh, keliatan. Pasang Gun!” seru Dzaki. Maksudnya pasti tripod yang saya bela-belain bawa.

Alhamdulillah, saya bisa juga jajal bikin timelapse sunrise. Walau niatnya pas di Jakarta, bikinnya di Pasar Bubrah. Tapi apa mau dikata, yang penting bikin dah. Setel intervalometer, limit 500 foto, interval 5 detik. Pastiin tripod di tempat aman dan ga bakal geser, oke, tinggalin. Saya menuju ke tempat kawan yang lain duduk-duduk. Ikutan makan biskuit.

IMG_9263
Satu dari 1000 foto yang digunakan buat latihan Timelapse

Kelar 500 foto, saya tambah lagi deh 500. Biar 1000 aja sekalian. Pacekap sama Bang Uki juga belum muncul. Biar deh sekalian nungguin.

“Gun kita duluan ke Pos 2,” kata Dzaki. “Gw mau tidur dulu di Pos 2. Tunggu si Yakleb dimari gak enak tempatnya. Biar sekalian tidur disana dah!”

Maka Dzaki, Aisha, dan Genta kembali melanjutkan perjalanan. Duh Genta, kamu itu kurang sensitif. Kenapa kau selalu jalan bersama mereka. Biarkan mereka berduaan. Gak baik jadi orang ketiga.

Selesai 1000 foto. Waktu menunjukkan pukul 06:30 WIB. Waktunya lanjut. Karena sudah terang, saya akui, jalurnya memang benar-benar ngaco. Full batu dan terus menanjak terjal. Seperti tanjakan Rante di Gunung Gede. Dan ini duo dokter gigi belum keliatan juga giginya. Ah sudahlah, mereka sudah dewasa. Saya tinggal saja. Biar bisa menunggu mereka sambil tidur di pos 2 juga.

IMG_9664
Rute dari Pos 1 ke Pos 2 ya begini. Nggak ada bonusnya. Banyak yang pasang tenda di pinggir jalur, mungkin keburu lelah.
IMG_9662
Terus nanjak sampai Pos 2. Gas gigi 1!

Dari tempat saya bikin foto sunrise, Pos 2 ditempuh dalam waktu hampir setengah jam. Ya kira-kira pukul tujuh pagi. Kurang sedikit. Keadaan pos 2 lumayan ramai. Meski posnya tidak berbentuk tanah lapang, tapi banyak juga tenda-tenda yang bertebaran. Orang ramai naik turun, banyak yang asyik foto-foto dan selfie.

Di pojokan pinggir jalur dekat plang Pos 2, Dzaki, Aisha, dan Genta sudah terlelap. Enak nampaknya tidur di gunung. Disinari matahari pagi yang hangat setelah berjalan semalaman diterpa angin dingin. Oke, cari posisi enak. Tidur juga deh…

 

Penculikan Dokter Gigi

Saya masih setengah tidur kala mendengar Dzaki berseru, “Gun, kita lanjut!” Tidak tahu juga dia lanjut karena para drg sudah sampai apa belum, saya masih menikmati enaknya tiduran (yang ternyata) di tengah jalur pendakian. Tidak peduli juga dengan para pendaki yang hilir mudik. Gimana bisa peduli, kan lagi tidur.

Tiba-tiba saja saya terbangun, “anjrit, jam berapa ini???” Asli enak banget tidurnya. Nyenyak! Ternyata sudah pukul setengah delapan pagi. Langsung berdiri, eh ternyata ada Bang Uki enggak jauh dari tempat saya terlelap. Tiduran saja dia, enggak tidur. Melihat saya bangkit, iapun ikut berdiri.

“Alfred sudah duluan,” katanya.

Apalah sudah duluan bareng trio macan di depan. Enggak lama kami berjalan, saya temui dia teronggok di tengah jalur.

pacekap bobo
Cuma di gunung, gundukan batu bisa senyaman spring bed.

Ketika saya dan Bang Uki, hampiri, ia hanya berguman.

“Aduh sapu mata su ngantuk skali hey, tidur sudah.”

Saya memandang ke Bang Uki, apa mau lanjut? Matanya terlihat ngantuk juga. Tapi saya tahu, ia sudah tidur sebentar. Ah tapi manusia hitam ini masa ditinggal sendiri? Kalau ia masih powerful macam era Semeru sih bodo amat. Tapi ah sudahlah, 10 menit kalau tidak bangun saya sepak saja.

Sementara Pace terlelap, saya foto-foto saja keadaan Pos 2. Mumpung sudah terang…

pos 2
Pos 2. Ya itu puncak Merapi.
nyeker
Bule nekad. Nyeker.
menuju
Jalur menuju Pasar Bubrah.
sumbsund
Sumbing Sindoro dari Pos 2
merbabu dream
Pace mimpi apa? Nyenyak sekali…

10 menit berlalu, Pacekap tidak ada tanda-tanda bangun. Saya sepak. Ia duduk. Mukanya suram.

“Mas-mas itu temannya sudah cape banget tuh,” ujar seorang pendaki yang baru turun. “Gabung dulu deh ke tenda saya, ngopi-ngopi…”

Ah saya jadi tergoda, tapi teringat trio macan yang sudah duluan. Saya kenal betul dengan tabiat Dzaki yang mudah ngomel. Niatnya mau lanjut, tapi Pace sama Bang Uki ternyata tergoda dengan tawaran mas-mas tersebut.

Dan akhirnya, Pace mendapatkan segelas kopi hangat. Lihat mukanya, jadi ceria.

pacekop
Ini kopi… KOPI KIR APAA?

Mas tersebut, namanya Malik. Seorang guide. Ia sedang mengantar rombongan dari Jakarta. Tendanya memang terletak tidak jauh dari tempat Pace tergeletak, makanya ia menawarkan diri mampir dulu ke tempatnya. Daripada menggeletak nggak jelas begitu.

“Wah senang nih dapet kawan baru lagi, dari Papua!” ucapnya kala ngopi bareng pagi itu. Lebih kaget lagi kala melihat manusia hitam di hadapannya ternyata dokter gigi. Makin kaget kala tahu juga kalau Bang Uki dokter gigi merangkap spesialis penyakit mulut.

“Wah mas, anu, ini bapak saya sakit ini… lalala… yeyeye… ulala,” ia jadi antusias konsultasi dengan Bang Uki. Kapan lagi konsultasi spesialis gratisan. Bang Uki juga tidak pelit ilmu, ia menerangkan keadaan ayahanda Mas Malik.

“Itu namanya simpton alalala uwawaw Mas, kalau bisa cepat dirujuk,” jawab Bang Uki seraya menerangkan gejala-gejala penyakitnya, lalu penanganannya, lalu apa yang harus dilakukan. Mas Malik mendengarkan dengan tekun seakan sedang kuliah.

Ah saya sih tak paham urusan begini. Saya pahamnya foto-foto. Dan saya izin beranjak sejenak dari tempat mereka, tentunya buat timelapse lagi. Ya daripada diem doang kan…

mas malik
Mas Malik si Penculik

Saat ngopi itu memang kami gunakan buat sarapan sejenak. Saya dan Bang Uki mengeluarkan biskuit-biskuit, sementara kamera saya tinggal beberapa meter di pinggir jalur buat bikin timelapse.

Pukul 09:00 WIB, kami bertiga pamit kepada Mas Malik, tentunya berterima kasih juga atas keramahannya. Enggak sekedar kopi, namun juga tempat dan waktu yang ia persilakan.

“Lah mas buru-buru banget, lagian juga sudah dekat. Ini sarapan dulu!” ujarnya sembari memasak nasi.

Wah kalau dapat nasi bisa-bisa kami enggak muncak. Oke Mas Malik, sekali lagi kami berterima kasih, ayo capcus!

Dengan tenaga superpower yang baru saja dicas, kami sampai ke Pasar Bubrah dalam tempo tidak sampai setengah jam. Padahal kalau lihat di plang, dari Pos 2 ke Pasar Bubrah itu satu jam. Uwew banget.

batu
Rute batu tiada ampun menjelang Pasar Bubrah
pos 2 dari sarbub
Pos 2 dilihat dari Pasar Bubrah
alfred sampe
Alfred, melangkah gontai ketika sampai Pasar Bubrah
sarbubrah
Pasar Bubrah
sarbub
Merapi Stratovolcanic Cone

 

Into The Fray

Kemana aja?

Ternyata Trio Macan sudah sampai di Pasar Bubrah dari pukul 8. Seandainya kami tidak diculik, mungkin kurang dari satu jam kami sudah sampai juga. Kenyataannya kan beda…

“Lah gw kan udah bilang, gausah nunggu gw. Target gw ke Merapi itu foto-foto, puncaknya bonus,” saya berkelit.

“Ya elu mah ga masalah, nah si hitam itu? Oi Yakleb.. LEMAH!” seru Dzaki kala Alfred sampai ke Pasar Bubrah.

Saking lamanya mereka menunggu kami, Genta sampai mengeluarkan kompor, dan sampai di packing lagi begitu sadar perbekalan seperti teh dan kopi dipacking di tas Alfred.

“Ah gila… Dua jam ini gw nungguin… Sampe ketiduran lagi,” ucap Genta.

pasar bubrah
Panoramic view Pasar Bubrah. Disaat inilah saya berharap ingin punya DSLR full frame dengan lensa ultra wide angle. 1DX Mk2 + EF 11-24mm L? Jual kebon dulu…

Berhubung sama-sama sudah istirahat, maka pukul 10:00 WIB pendakian tentu kami lanjutkan. Puncak sudah di depan mata. Gundukan pasir setinggi 500 meter menanti. Rutenya macam Semeru saja. Pasir.

Nah sejatinya izin pendakian hanya sampai Pasar Bubrah. Mau lanjut ke puncak, ya enter with your own risk. Sama seperti Semeru yang izinnya sampai Kalimati. Muncak atau enggak, terserah pribadi masing-masing. Cuma kalau ada apa-apa, ya tanggung sendiri akibatnya.

Nah berhubung Dzaki punya mata elang yang cukup jeli, ia memperhatikan kalau rata-rata orang menggunakan jalur tengah yang berpasir. Padahal, ada jalur bebatuan di kiri, terpisah satu lembahan. Itulah jalur yang kami pakai untuk naik…

start again
Perhatikan jalur berpasir di tengah, itulah rute yang banyak digunakan orang. Target kami ke kiri, liat ada jalur setapak kecil itu.
IMG_0094
Untuk sampai ke jalur tersebut, tentunya lewat jalur pasir toko matrial dulu.
BUBRAH MOONSCAPE
Orang lain pada ke kanan, kita ke kiri saja…
IMG_0106
Ujungnya berupa lembahan, nah masuk ke jalur batu.
scrambling party start
Selamat datang di jalur Scrambling
rites
Kita semua belok kiri ke jalur scrambling, Pacekap solo karir di jalur tengah. Embrace the Sand…
summitack
Kayak Carstensz Pyramid
start your scrambling
Kayak begini rutenya. Memang terlihat mengerikan. Tapi percayalah, lebih enak seperti ini daripada lewatin pasir yang tiap beberapa langkah amblas. Yang penting perhitungan aja jangan lewatin batu lepas.
dzaki scrambling
Katanya jangan jadi orang yang suka main tangan, tapi disini, wajib main tangan. Namanya juga scrambling.
SCRAMBLER
Pokoknya nanjak terus dan jaga konsentrasi
aisha scrambling
Jangan ragu-ragu kala melangkah, carilah tempat berpijak yang pasti. Di gunung, atau di dalam kehidupan. Oke Ay? Kapan nikah? Itu udah ada yang mau kok.
scrambling party
Akhirnya kelewat juga jalur scramblingnya. Ketemu lagi sama jalur pasir.

Enak scramblingnya? Jelas enak. Kalau lewat jalur tengah, 3/4 jalan ke puncak kan lewat pasir yang tiap beberapa langkah amblas. Kalau lewat jalur kiri, 1/4 pasir dulu, lalu 2/4 batu, nah 1/4 lagi ketemu sama jalur tengah, di bebatuan.

Ada satu jalur lagi, jalur kanan. Itu sih Genta aja yang pekok. Jadi dia cerita, waktu pendakian Merapi sebelumnya, ia dari Pasar Bubrah sampai puncak hampir 3 jam. Gara-gara lewat jalur kanan yang full pasir dari bawah sampe atas.

Pukul sebelas kurang, kami sudah sampai di bibir kawah Merapi. Hey, enggak sampe 1 jam via jalur scrambling. Padahal jujur saja, banyak berhenti buat himpun nafas. Yang bikin cepet itu karena jalurnya enggak ambles.

Bagaimana dengan nasib Pacekap? Selang 15 menit ia baru sampe. Lagian udah dibilangin belok kiri masih aja maju tertib di jalur pasir.

aisha lelah
“Marry a mountain girl and you marry the whole mountain” – Irish Proverb. Oke Dzaki?
barameru crater
Kawah Barameru

Merapi itu terkenal sebagai gunungapi paling aktif di negeri ini. Terakhir meledug, 2010, Yogyakarta dan sekitarnya sampai darurat nasional. DIY, Klaten, Magelang dan sekitarnya ditutupi abu. Bahkan sempat abu tipisnya terbawa sampai Bandung.

Nah biasanya kalau orang awam mikirnya di kawah itu ada lava, dan pas gunung meletus, keluar lavanya ngalir. Kalo Merapi, enggak selalu seperti itu. Lava merah yang menyala kemudian ngalir ke lereng paling hanya ledakan awal saja.

Selanjutnya? Muncullah awan piroklastik campuran lahar dingin, debu, batu, gas beracun hingga bom vulkanik berupa batu lontaran. Sebutannya wedus gembel. Melaju dengan kecepatan tinggi ke lereng. Menerjang apa saja yang menghalangi jalurnya.

Yes. So powerful. So destructive. So merciless. Yet, so sacred and respected. This is Barameru. The Fire Mountain. The Most Active Volcano in Indonesia.

Saya baru tahu saat itu kalau Merapi punya nama lain Barameru. Artinya jelas. Bara ya api. Meru itu gunung. Gunung api. Meru api.

Kalau Mahameru? Ya lain lagi cok!

Oh ya, tambahan aja. Ada sinyal internet di Barameru. Saya pakai Indosat. Genta pakai Telkomsel. Sama-sama dapet sinyal H+. Saya sempet upload foto malah pas di puncak. Kan biar kekinian…

puncak garuda
Puncak tertinggi Merapi sebenarnya batu yang nyengcle itu. Yang waktu itu kejadian selfie maut. Pikir aja sendiri, kesana aja udah susah. Terus naek lagi ke atas batu itu? I prefer to watch my children grow up.
view dari puncak
Pemandangan dari Puncak. Pasar Bubrah sampe Pos 2 keliatan tuh.
foto keluarga puncak
Foto keluarga di Puncak.

 

Going Home is Another Adventure

Pukul 12:00 WIB, kami mulai turun. Tentunya kalau turun lebih enak lewat jalur berpasir. Karena serasa main ski.

ski
Downhill
ski2
Pacekap Ski
ski3
Ini saya. Lagi lari di pasir. Udah itu aja.

Buat yang penasaran gimana rasanya ski pasir, tinggal datang ke toko matrial deket rumah. Coba aja naik turun gundukan pasirnya. Enggak beda jauh kok.

Oh ya, kami turun dari puncak pukul 12:00 WIB. Saya sendiri sampai ke Pasar Bubrah lagi pukul 12:15. Turun cuma 15 menit. Mau lari atau enggak, itu pilihan. Atau mungkin alasan Dzaki saja biar bisa berlama-lama dengan Aisha diatas sana.

Pukul setengah satu siang, kami sudah siap turun lagi. Ini one day trip. Jadi ya ga ada kemping kempingan kali ini. Langsungin! Tapi sebelum pulang, ya foto-foto dululah…

foto keluarga pasar bubrah 2
Foto keluarga di Pasar Bubrah. Background Barameru.
foto keluarga pasar bubrah
Foto keluarga di Pasar Bubrah. Background Lawu.

Pukul satu siang, kami sudah sampai lagi di Pos 2. Nah disini rencananya berhenti dan makan siang sebelum pendakian turun. Yang udah lelah dan ngantuk, ya tidur. Selagi menunggu makanan mateng, yaitu indomie. Ah elah, ga sampe 15 menit juga mateng itu.

pos 2
Plang Pos 2
pos 2 tempat bobo pagi
Tempat saya tidur pagi sebelumnya. Itu di landasan diantara 2 jalur. Beralas pasir saja, nyenyaknya luar biasa.
pos 2 bobo
Ini Aisha. Korban bullying dari berangkat, pendakian, hingga pulang. Dia tidur karena lelah, bukan karena memikirkan masih single.

Pukul 14:30 WIB, semua perlengkapan masak sudah dibereskan. Kami mulai berjalan turun. Melewati jalur batu itu dengkul rasanya mau copot. Karena terang, keliatanlah jalur yang tadi pagi kami lalui. Memang beneran sakit jiwa sih derajat kemiringan dan batu-batuannya.

Oh ya, Merapi hari itu ramai. Mungkin karena Hari Sabtu, plus Hari Seninnya kan sudah masuk bulan puasa. Mungkin pada munggahan. Selama bulan puasa kan biasanya pada libur ngedaki tuh. Kecuali orang-orang yang enggak puasa, atau nekad.

Pukul 15:24 WIB, saya dan Dzaki sampai lagi di Pos 1 Watu Belah. Jalan pelan menahan dengkul yang mau copot. Sedangkan sisa 4 lagi masih di belakang. Duduk-duduk lagi deh di Pos 1, sembari memperhatikan dedek-dedek lucu yang lagi pada istirahat. Tampangnya sih udah pada kelelahan. Tapi masih pada semangat gitu. Asli, pendaki cewek jaman sekarang kok lucu-lucu ya?

plang watubelah
Plang Pos 1 Watu Belah
shelter watubelah
Shelter Watu Belah yang semalam pada tidur disitu.
watu belah
Kenapa namanya Watu Belah. Karena ada Watu. Yang Belah.

Begitu sudah regroup lagi, ya lanjut jalan lagi. Ternyata di Watu Belah ada persimpangan. Ujungnya sih sama, tapi yang satu melipir ke bawah batu. Satu lagi lewat bebatuan. Nah semalam saya lewat jalur yang bebatuan. Penasaran juga lewat jalur melipir kebawah. Yang lain sih pada lewat jalur yang semalam.

Sempet rada-rada keder juga tuh jalan sendirian. Kok nggak ada yang naik lewat jalur melipir? Padahal rutenya tanah. Memang ada beberapa tanjakan yang cukup curam, namun kebanyakan landainya. Untung setengah jalan di rute itu, saya ketemu pendaki yang mau naik.

Sekitar pukul 16:10 WIB saya sudah sampai lagi di Pos Gerbang TNGM. Yang lain ternyata belum sampai. Saya sendiri saja menunggu mereka. Pos Gerbang TNGM sendiri sangat ramai. Banyak pendaki yang mau naik. Istirahat setelah dihajar rute ladang yang memang cukup menguras tenaga.

Sembari bakar nikotin, saya buka HP. Oh sudah dapat sinyal lagi. Entah kenapa volumenya tiba-tiba max, mungkin kepencet. Suara “TENG NONG” nya LINE yang khas mengagetkan banyak pendaki. Saya lihat, mereka jadi pada buka hapenya. Ye…

gerbang tngm
Plang Selamat Datang TNGM. Dzaki kenapa kamu disitu? Mau bersembunyi? Tidak bisa!
plang tngm
Pas jalan semalem mana merhatiin plang-plang ini.
rute gerbang tngm
Rute dari Gerbang TNGM ke atas. Enaknya jalan malem ga ngeliat kondisi rutenya, tapi “merasakan” kondisi rutenya.

Pukul 16:30 WIB, kami mulai turun lagi. Okelah sekarang tinggal sisa jalur ladang yang licinnya minta ampun. Beginilah manusia-manusia. Dapet jalur batu pas naek cape, pas turun lebih cape. Dikasih jalur tanah, pas naek cape, pas turun licin.

Klimaks dari perdongkolan saat turun adalah ketemu lagi dengan rute jalan setapak beton cor itu. Seharusnya kami senang, karena tandanya New Selo tinggal sepelemparan upil jaraknya.

Tapi apa daya, berjalan di jalan coran yang menurun bisa-bisa bikin dengkul osteoporosis. Seperti tidak ada daya redamnya. Menapakkan kaki, terasa bergetar sampai pinggul. Keras hidup ini bung!

Tapi ah, pukul 17:25 WIB, kami semua sampai lagi di New Selo. Tinggal turun sebentar melalui jalan aspal hingga ke Basecamp Barameru, bisa istirahat lagi disana. Etape final nih!

IMG_0495
Sekarang udah tahu kan kenapa foto ini terang?
merbabu
Merbabu, difoto dari New Selo.

Dari New Selo, kami lanjut lagi setelah regrouping. Maklum, kami selalu mencar. Berenam tapi gak pernah jalan berenam. Kecuali pas di rute aspal ini. Baik pas berangkat, maupun pas pulang sore itu.

Pukul 18:00 WIB, kami sudah sampai lagi di Pos Basecamp Barameru. Well… It’s official. Kami mendaki Merapi hanya dalam tempo 14 jam. Singkat, namun berkesan. Ini gunung bener-bener cakep kalau buat foto-foto dan summit attack.

Soalnya nih, pas sunrise bisa lihat Lawu dan Kota Solo. Sunsetnya lebih powerful lagi. Merbabu, Sumbing, Sindoro dan Slamet dalam 1 frame. Mungkin perlu dicoba lain kali…

Naek gunung kok cepet-cepet sih, bukannya dinikmati? Bukan begitu juga. Menurut Dzaki yang juga saya amini, Merapi bukan gunung yang cocok buat dipake ngecamp.

“Merapi itu gunung Summit Attack. Kemping kok di gunung yang nggak ada air kayak gini!” ungkapnya.

Tapi mau kemping atau enggak, itu selera. Silakan saja. Preferensi tiap orang kan beda-beda. Nggak ada air, ya bawa air yang banyak. Selesai masalah.

Tapi memang, buat saya sendiri, Merapi memang bukan gunung yang nikmat dipakai camp. Lantas gunung yang nikmat buat jadi REMPAKEM (remaja pecinta kemping) tuh apa?

“Argopuro.”

IMG_0402
Syarat menjadi tempat kemping adalah air. Ini airnya Cikasur. Argopuro. Nuff said.

 

Extra: Rute PHP Laknat

Pulangnya sampe Yogyakarta lagi mungkin bisa jadi salah satu momen terburuk saya dalam mengendarai motor. Ya ya ya saya orangnya senang jalan-jalan dengan motor. Tapi malam itu, sepertinya lebih banyak kesalnya daripada enaknya.

Perkaranya, kami memutuskan untuk pulang lewat Boyolali saja. Karena rute yang kami pakai untuk naik kan ancur ancuran. Memang jadi lebih memutar, tapi setidaknya, saya pikir akan lebih bagus kondisinya.

Saya pikir…

Saya…

Pikir…

Bagus…

Ternyata sama saja. Sudah mana lebih jauh, memutar pula. Dari Selo hingga jalan raya Boyolali yang normalnya kurang dari satu jam, soalnya dulu saya pernah lewat jalur tersebut, molor jadi dua jam.

Berangkat dari Pos Barameru pukul 19:00 WIB, sampai Boyolali pukul 21:00 WIB. Tambah kaki sudah pegal, pundak pegal, tangan pegal. Harus bermanuver seakan saya pakai Kawasaki KLX. Jalur turunan, sedangkan penuh batu dan pasir. Ngasal main rem, dijamin slip.

Asli dongkol bukan main. Padahal jalur tersebut adalah Jalan Nasional. Penghubung utama antara Magelang dengan Solo.

Memang keadaannya sekarang sedang dicor. Tapi rute sepanjang 30km itu tentu selesainya enggak bakal dalam satu dua bulan saja. Paling enggak tahun depan baru selesai.

Nah yang mau ke Merapi, siapkan saja mental menghadapi rute Laknat tersebut. Mau naik dari Muntilan atau Boyolali ya sama saja.

Sampai di Boyolali, tentunya makan dulu. Lalu lanjut ke Yogyakarta via jalur shortcut Jetis Jatinom. Kalau lewat jalan utama kejauhan muternya. Untungnya saya pernah lewat jalur tersebut, meski harus dibantu sedikit oleh google maps. Sudah malam soalnya.

Sekitar pukul setengah 11, kami sudah ketemu lagi dengan jalur utama Klaten Yogyakarta. Nah disini ketemu jalur lurus dan enak, mata makin mengantuk saja. Sampai harus berhenti dulu di minimarket. Padahal sudah sampai Maguwo.

“Sa lihat sudah miring-miring bawa motornya, pasti ngantuk, bahaya kalau lanjut,” ujar Alfred kala berhenti.

Memang. Harus tahu kapan saatnya untuk berhenti. Jangan nafsu kebawa tanggung. Bahaya.

Syukur kami sampai lagi di rumah Ivan sekitar pukul 23:30 WIB. Yang lain makin teler, dan langsung tiarap di tempat yang sudah disediakan.

Lah ngantuk saya malah hilang, gara-gara disamperin kawan-kawan dari Jozxy.

Emang yang namanya kawan itu bisa bikin semangat lagi. Makanya, jangan ragu punya banyak kawan. Cape, ngantuk, bete, bisa hilang kala bertemu. Apalagi kawan yang sudah lama tidak bertemu ngajak ngobrol seru, meski obrolannya kesana kemari, yang penting seru aja.

Sama sih kaya naik gunung. Meski jalannya kesana kemari, bikin cape dan sering bikin kesel, kalau lama tidak bertemu pasti jadi rindu…

 

Tangerang Selatan. 15/06/2016.

MERAPI

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s