Killing The Misinterpretation in 250 Miles

Ah ini tulisan nggak bakal sepanjang tulisan lain di website ini. Saya janji. Orang cuma touring deket-deket aja kok…

*malicious grin

Touring? Sering. Mau saya ceritain kisah saya touring paling jauh sampe mana? Jangan. Nanti dikira sombong.

Buat orang lain, mungkin jarak Jakarta-Bandung udah bisa dianggap touring. Buat saya, jarak segitu cuma commuting.

*Nah dia mulai sombong kan..

Ah cut the crap lah, kali ini saya mau cerita sekilas flashback masa lalu yang terpendam yaitu sekitar dua minggu yang lalu. Jalan-jalan touring ke dua kebohongan besar di Jawa Barat. Cirata dan Jatiluhur.

Saya sudah pernah ke dua tempat itu pakai AN145X Kuroikaze. Tapi kali ini beda. Ini pengalaman baru. Pake motor 250cc. Yep, jangan ketawa kalau saya belum pernah pakai motor 250cc. Saya bebekers/metikers memang sehari-hari.

Kalau dibilang pertama banget pake motor 250cc sih enggak juga. Beberapa minggu sebelumnya saya pakai Z250SL-nya Rajendra macantua.com. Lewat jalur Purwakarta-Bandung-Purwakarta yang bikin dongkol. Kenapa? Nanti saya ceritain dibawah.

Short trip dengan Z250SL itu ternyata semacam lepas limiter, karena ya enggak lama setelah itu, saya diajak lagi buat touring dengan motor 250cc. Gotta say thanks to Mr. Rajendra. Thank you Mang!

Nah 7 Maret 2017 itu, Popo, kawan saya di kantor, tiba-tiba saja chat via WA. Ini saya lebay-lebayin aja chatnya. Biar rame.

“Arrr you rready to rrrummmbbllleeee?”

“Apaan sih lu?”

“If you smmmeeellelele…”

“Fak lah.”

“Wat the rock… is…”

“Tai.”

“Touring!”

“Oke gw ikut.”

Nah kira-kira begitu chatnya. Tanggal 7 chat, bilang tanggal 8 berangkat. Belum tau saya bakalan pakai motor apa. Tapi kalau diajak touring, saya pasti mau ikut. Simple man isn’t it?

So, dengan berbekal pengalaman kalau kantor touring biasanya ada mobil buat storing barang dan bawa fotografer + videografer, saya cuek aja masukin segala peralatan saya ke dalam tas. Laptop, SLR, lensa, baju ganti. Ntar tinggal ditaro di mobil toh.

Dan ternyata sodara-sodara… ketika besok harinya saya tahu bakalan touring dengan motor 250cc, eh gak ada mobilnya. So, you gotta bring all of your thingies, strap it all up, and go.

Masalahnya saya ga ada strap buat naro barang di jok belakang. Berarti mau gak mau selama perjalanan harus digendong. Mbah Surip Mode On!

Ready To Race? You Mean Ready To Encok?

So motor apa yang tersedia untuk perjalanan kami?

Kawasaki memberikan Ninja 250, Ninja 250SL, dan Z250.

Yamaha menyiapkan R25 dan MT-25.

Honda mewakilkan Honda CBR250RR.

Lantas ada KTM dengan RC250 dan Duke 250.

Suzuki kemana? Lagi bertapa. #janganbullysuzukikasian

Mendengar kisah notorious dari KTM RC250, saya harap tidak dapat motor itu. Ninja 250SL pun jangan deh, karena pake Z250SL aja rasanya udah minta diurut.

Tapi kawan, terkadang Tuhan memberikan yang terbaik buat kita, bukan yang kita mau. Ya akhirnya saya yang pakai KTM RC250. Which is actually an impressive bike, for trackday.

Racy, posisi badan menunduk, footstep tinggi, jok tinggi, setang memaksa saya untuk menunduk. Ayyy… Can i hold on with this one. Well… Challenge accepted!

Rabu 8 Maret pukul empat sore, kami semua berangkat dari kantor di daerah Kebon Jeruk. Tujuan kami ke Cianjur. Rute Parung Bogor tapi belok via Bukit Pelangi, lantas Puncak. Ah ini rute biasa. Tapi pastinya ini bakalan terasa enggak biasa dengan RC250 ini.

Benar saja, baru sampai Pondok Indah saya udah mulai ngerasa pegal. Macet sore hari ini bener-bener dah… Apalagi saat lewatin proyek konstruksi MRT di Lebak Bulus. Edan sakit jiwa macetnya. Enggak cuma saya doang sih yang pegel. Semua juga.

Tapi perjalanan cukup lancar selepas Parung. Masuk Bogor, belok ke arah Sentul. Mulai gelap. Ya berenti sebentar buat Shalat Maghrib, lalu lanjut lagi.

17202937_10210782953163068_3575013583913724193_n
RC250 di Sentul (kampungnya, bukan sirkuitnya). Rehat minum, minta fotoin.

Sekitar pukul tujuh malam, kami mulai masuk ke jalur Bukit Pelangi. Ini kali pertama saya lewat sini, dan jalurnya ternyata enak. Sepi, banyak tikungan. Tapi karena saya baru pake RC250 ini, belum berani mereng-mereng. Sempat beberapa kali hampir out, tapi bisa dikoreksi lagi. Ya namanya juga pemula diatas motor seprot begini. Maklumlah.

Masuk Puncak, lah mulai hujan. Ah begimana ini? Melipirlah kami ke warung, sekalian makan malam. Hujan makin deras. Shiet. Pake jas hujan dulu deh, sampe sekitar pukul 10 malam, baru kami lanjut lagi.

Nah motor yang saya pake ini, terkenal sebagai motor 250cc single cylinder paling powerful dengan power diatas 30HP. Torsinya badak, 24Nm di 7250 RPM. Mendaki tanjakan bisa pakai gigi empat, malah lima kalau momentumnya pas. Tapi di kala hujan, ini bikin ngeri. Takut spin.

“Pede aja, itu bannya Diablo Rosso II. Ban spek dewa itu,” kata Sigit, teman seperjalanan saya.

“Yang penting pede, pandangan ke depan. Kalau mau out, pandangan masukin lagi ke line. Koreksi aja, lama-lama juga bisa kok.”

Bukan masalah pede nikung atau enggaknya, cuaca malam itu yang dingin, hujan, basah, bikin tangan kiri saya keram sehingga sering sulit menarik kopling. Haha!

Perjalanan kami hujan-hujanan tidak lama sebenarnya. Sekitar pukul 11 malam kami sudah sampai di tujuan kami, D’Jhon di Cianjur. Check in, haha hihi sebentar, masuk kamar, tidur.

Jari-jari yang kecengklak sama pantat yang ledes ini mesti udah fit lagi buat perjalanan besok!

Learning By Doing!

Pagi 9 Maret 2017, saya terbangun dengan pundak yang masih terasa sedikit kaku. Pantat sudah okelah. Lagian yang lain seperti ogah begitu pakai RC250. Pak Iday, kepala suku kami yang pakai Ninja 250 jelas menolak. Maklum, dia pasti lebih ingin menikmati perjalananan dengan Ninja 250 yang sport touring kelas ningrat. Tambah lagi dia juga mantan FBK seperti saya.

Waluyo, teman sekamar saya yang pakai Duke 250 juga sama ogahnya.

“Udah pake RC aja… Lu kan kuat,” begitu alasannya. Entah saya harus senang atau dongkol mendengar pujian itu.

Pagi hingga siang, kami ya santai saja di penginapan. Ada sesi pemotretan dulu sampai sekitar pukul 12 siang. Setelah shalat Dzuhur, baru kami lanjut lagi.

Grup 250cc_SLM_9205
Here we are gengs! Photo: Agus Salim / OTOMOTIF

Perjalanan kami lanjutkan menuju Cirata. Karena enggak dapat makan siang dari penginapan, target kami satu. Cari makan! Tidak sulit sih cari tempat makan. Namun satu hal yang bikin saya kesel itu kalau markirin RC250. Udah kayak Syahrini aja. Maju mundur cantiiiikkk…!

Soalnya itu jok kan tinggi banget, 820mm sedangkan tinggi saya cuman 164cm. Udah jinjit balet, mundurin motor itu aduh rasanya mantap dah. Jadi kalau mundurin motor saya turun dulu. Dan keselnya lagi, sudut putarnya pendek ala motor balap. Hey cantik sekali kamu, tapi nyusahin!

Kelar makan siang sekitar pukul dua siang. Kesorean enggak yaaaa? Tapi cuek ajalah, itu waduk enggak bakal pergi kemana-mana.

Rute asik mulai kami lalui dari Cikalong Kulon. Ini buat pecinta cornering pasti hepi banget kalau kesini. Aspal bagus, sepi, pemandangan memukau. Tapi, gak ada waktu buat menikmati pemandangan kalo saya sih…

Hari kedua pakai RC250, saya udah mulai bisa menikmati liukannya. Memang gemulai. Bobot yang enteng, ban yang terus menempel dengan aspal, ah mantap bung. Mulai berani saya miring-miring. Asik!

17425035_10210893882216225_7439330928607366921_n
Dia mulai pede sodara-sodaraaa…

Dari yang sebelumnya saya selalu kerepotan dan berada di barisan belakang, kali ini saya maju. Perlahan-lahan kedepan. Yang enggak bisa saya susul cuma tiga orang, dan itu semua pembalap yang sudah makan asam garam di Sentul. Mas Aant, Sigit, dan Fariz. Yang terakhir saya sebut malah tahun ini balapan di kelas 250cc.

Ya gak apa-apalah, saya bisa belajar dari mereka-mereka ini. Cara mereka menikung, masuk line, engine brake, ngerem, ngegas, itu semua pelajaran. Kayak gini gak bakal nemu di sekolah, dan gak bisa modal teori. Perlu observasi dan dedikasi. Thanks guys!

Nah kami sampai di Cirata pukul empat sore. Waktu kami hanya sekitar dua jam untuk pemotretan. Dan kalau kalian menyangka pemotretan itu gampang dan simple, enggak sesederhana itu. Fotografer kami, Bapak Agus Salim, terkenal sebagai watak yang ceria, hobi bercanda, dan sering tertawa. Tapi semua berubah kala ia pegang kamera.

“ELU, IYA ELU, DISITU!”

“ELU NGAPAIN DISITU, NGALANGIN YANG LAIN!”

“ULANG LAGI, INI MASIH JELEK!”

“UDAH DIBILANG JANGAN GITU, KENAPA DISITU? HEI! PINDAH!”

Sesi pemotretan kami benar-benar tedious, meticulous, and professional. Kami sering harus berulang-ulang mondar-mandir di spot yang sama, demi sebuah gambar yang oke. Belum lagi kalau lagi asyik jalan tiba-tiba si bapak berhenti tiba-tiba dan minta foto di spot itu. Kami yang di depan harus balik lagi ke belakang.

Semua selesai kalau ia sudah berkata, dan ia memang selalu berkata seperti ini…

“OKE SELESAI. TERIMA KASIH SEMUANYA! YUK LANJUT!”

Kalau kata-kata itu sudah keluar, caps locknya udah mati. Dan kami bisa sedikit tenang. Hehe… Yah, nikmati aja beberapa fotonya yang saya pakai buat ilustrasi di tulisan ini.

Grup 250cc_SLM_9290
Stick together team! Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Grup 250cc_SLM_9334
Dam Waduk Cirata. Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Grup 250cc_SLM_9317
Mondar-mandir ajeee… Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Fairing 250cc_SLM_9411
The Faired 250cc In Action. Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Fairing 250cc_SLM_9300
SL takes it from the insidee… Can he make it stiiiick…? Photo: Agus Salim / OTOMOTIF

Sesi pemotretan selesai pukul lima sore. Target kami menuju Jatiluhur. Tadinya setelah buka-buka peta, ada jalur perkampungan dari Plered langsung tembus Jatiluhur. Jalur utama terlihat merah di google maps. Saya paham betul kenapa merah begitu, hahaha!

Perjalanan kami menuju Plered mulai ditemani hujan. Setelah Sholat Ashar di mushola kecil selepas Cirata, baru aja kami belok ke jembatan besar, nah loh hujan turun. Dan kami mau tak mau berhenti dulu. Pake jas hujan dong!

Grup 250cc_SLM_9527
Hujan lagiiiii… Photo: Agus Salim / OTOMOTIF

Azan Maghrib berkumandang saat kami mengisi bensin di Plered. Talking about bensin, ini KTM RC250 ternyata cukup irit, 1 liter untuk 34km saja. Lumayan!

Berhubung masih sedikit rintik dan ragu dengan jalur yang akan kami lewati, maka kami berhenti sebentar di pom bensin tersebut. Sekalian Shalat Maghrib. Lah ternyata di samping pom bensin ada warung kopi.

Perut sedikit lapar,  badan sedikit basah, fisik sedikit lelah. Mana bisa kami mendustakan nikmat kopi, gorengan, indomie, dan bubur kacang ijo. Ini perjalanan harus dinikmati. Maka kami parkirkan motor di pom bensin dan pergi ke sebelah. Motor isi bensin, orangnya juga dong!

Memang setiap perjalanan, pasti membawa cerita lucu. Seperti cerita sang pemilik warung yang  berlari-lari mengejar Popo kala handphonenya ketinggalan di parkiran pom bensin. Eh… kelar makan dan kami semua kembali ke motor, dia kembali berlari-lari menghampiri Sigit yang tasnya ketinggalan. Ah pahalanya gede banget ibu itu. Kita doain warungnya laris Bu!

Perjalanan pun kami lanjutkan setelah adzan isya berkumandang. Mau tak mau kami melalui jalur utama Purwakarta yang terlihat merah darah di google maps. Itu gara-gara rusaknya jembatan Cisomang sehingga truk tidak ada yang boleh masuk ke tol.

Jadilah, sepanjang perjalanan kami harus lincah selap selip diantara Optimus Prime. Belum lagi ada jalan rusak parah sampe ada Avanza yang nyangkut di as dan bikin macetnya makin seru. Ya namanya touring emang seru sih, tapi ogah lah lewat jalur kayak gitu. Enggak ada hepi-hepinya!

Alhasil, jarak 19km kami tempuh dalam waktu hampir dua jam. Edan! Kami sampai di penginapan yang lokasinya tepat di hadapan Waduk Jatiluhur hampir pukul sepuluh malam. Purwakarta memang istimewa. Macetnya.

Wrong Habitat

Dua malam kami menginap di tempat yang punya tema yang sama. Akuatik. Sebagaimana manusia yang tidak cocok tinggal di air, maka rasanya aneh juga melihat jurnalis-jurnalis otomotif yang bau aspal dengan ceria jumpalitan di air. Naik turun waterslide seperti anak kecil.

DCIM100GOPROGOPR3988.

DCIM100GOPROGOPR4019.
Yeaaahhh!

Selepas sholat Jumat, setelah sesi pemotretan (lagi) di daerah Jatiluhur, kami sepakat untuk lewat jalur memutar waduk. Keluarnya di Loji. Udah pada kapok lewat jalur utama. Kayak gimana jalurnya? Ya kita belum ada yang tahu. Makanya kita cari tahu dong!

Grup 250cc_SLM_9611
Boyband dari mana ini? Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Grup 250cc_SLM_9871
Jatiluhur Powerhouse. Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Grup 250cc_SLM_9885
Onward! Photo: Agus Salim / OTOMOTIF

Kami memutar lewat bawah powerhouse, belok kiri, dan mulailah petualangan kami di jalur antah berantah ini. Kondisi jalannya untung sudah dicor semua. Tapi kiri kanan hutan begini. Jalur naek turun. Kalau malam enggak ada penerangan. Serem pastinya.

17202727_10210797949977979_6926643097761401131_n
KTM duo di Ubrag Jatiluhur

Kalau ngomongin jalur, sebenarnya ini asik banget buat dipake Sunday Morning Ride, Saturday Morning Ride, Friday, Thursday, ya pokoknya everyday. Emang sih jalur corannya paling selebar lima meter aja. Tapi liukan dan naik turunnya mantap. Tambah lagi sepi karena menembus hutan. Pemandangan jangan ditanya… Wah susah diungkapkan dengan kata-kata!

Sekitar setengah jam menikmati perjalanan dengan kecepatan sekitar 40km/jam di rute yang jujur aja bikin saya makin hepi itu, kami berhenti lagi. Ada pemandangan yang cukup terbuka di samping Waduk Jatiluhur. Otomatis CAPS LOCKnya Bapak Salim keluar lagi.

Grup 250cc_SLM_5308
We’re not gangsters. Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Grup 250cc_SLM_5299
Ngaso dulu, perjalanan masih (cukup) panjang. Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Orange Bros
The Orange Brother

Puncak excitement saya memang di hari ketiga ini. Logikanya, setelah turing hampir 400km dengan motor sport, saya bakal ngerasa lelah dan dongkol. Eh… sekarang lepas dari tempat kami pemotretan, udahan wey jalanan bagusnya. Masuk rute kampung. Dan jujur aja, offroad!

Sejatinya emang ini ranahnya KTM EXC. Atau lebih cocok kalau kami test ride CRF250L Rally atau Versys-X 250. Ketemu rute gini dengan motor sport rasanya ingin muter balik. Tapi muter balik lebih jauh. Tambah lagi kan saya udah bilang, saya lebih kesel muter balikin RC250 dibanding riding positionnya. Yaudah gas aja!
SLM_5435x
Salah Habitat. Photo: Agus Salim / OTOMOTIF
Grup 250_SLM_5442
Gak ada noda ya nggak belajar. Photo: Agus Salim / OTOMOTIF

Walau harus melewati rute offroad dari Jatiluhur sampe Loji, tetep aja, udah lupa sama pegelnya. Asli enak aja ngehajar lubang sama kubangan. Untung saya pake helm full face. Kalo enggak, pasti disangka orang gila karena senyum lebar banget sepanjang jalanan rusak hampir 10km. Full with joy and excitement!

Lah namanya juga seneng! Suspensi WP upside down diameter 41mm yang gambot ini bikin gak ragu ngehajar rute kayak gimana juga. Mesin single silinder 250cc yang torsinya edan, cukup seru juga buat dibawa ke rute offroad. Nanjak di jalan rusak tinggal gas aja. Serr, majuuuu!

Kami sampai di pusat Kecamatan Loji sekitar pukul lima sore. Lewatin jalan rusak sepanjang hampir 20km dan makan waktu sekitar satu jam saja. Tapi sumpah, satu jam itu yang bikin saya paling senang.

Di Loji kami berhenti lagi karena belum makan siang loh dari tadi. Sampe lupa makan… Lagian males juga nyari tempat makan di pinggir hutan, mending kalau udah sampe keramaian, jadi banyak pilihan. Ya nggak sih?

Rencananya dari Loji ini kami akan lanjut ke Cariu. Sesampainya jalur utama Jonggol-Cariu, saya belok kiri dan lanjut ke Bandung, sedangkan yang lain pulang ke Jakarta via Jonggol.

“Gun, kalau ke Bandung hati-hati ya. Enggak ada plat nomer belakangnya,” kata Mas Aant mewanti. Iya juga, lagi musim operasi kepolisian. Bukannya takut-takut atau gimana, ini KTM lengkap kok suratnya. Tapi seandainya pake baju baja lalu masuk ke kandang singa, lebih baik gak usah masuk kandang singa kan?

“Saya tukeran pake Duke 250 aja deh ke Bandungnya Mas!” Emang dalam hati saya penasaran sama si Duke 250 ini. Meski mesinnya sama, tapi jujur aja mesin si RC250 ini emang lagi kurang sehat alias enggak mau dibawa pelan. Maunya digeber terus. Dibawah RPM 4000 aduh mak geternya itu terasa berlebihan. Entah belum ganti oli, atau perkiraan Mas Aant, Krukasnya enggak center.

Memang si RC250 yang saya pakai ini adalah unit test ride yang sudah melanglang buana kemana-mana. Odometernya saja sudah 15.000km. Kalau ada sesi test ride sama KTM, biasanya motor ini yang dikeluarin. Dipake uji geber di Sentul, di abuse dengan freestyler, pernah. Pantesan mesinnya udah rada aneh.

Waluyo dengan sedikit enggan menyerahkan kunci dan STNK Duke 250 kepada saya. Oke, kisah saya dengan RC250 pun resmi berakhir di Loji, Karawang. Lanjut pake Duke 250 ke Bandung!

Nah, kalo mau jujur, dari awal saya sudah punya prasangka negatif sama RC250 ini. Ya sebabnya sih karena saya nggak pernah pakai motor dengan posisi duduk pure sport, jadi udah kebayang hal aneh-aneh aja. Pegel, encok, keram, kapalan, ah sepertinya perjalanan ini tidak bisa saya nikmati.

Dan ternyata saya salah. Motor apapun kalau dibawa dengan hati senang dan penuh excitement, ternyata nggak bakal ngecewain. Cukup tiga hari sejauh 250 mil, atau 400 km. Jakarta – Cianjur – Cirata – Jatiluhur – Loji.

Gotta say, RC250 ini sukses membunuh prasangka negatif saya, in a beautiful way.

IMG_5515
Tangerang Selatan, 25/03/17
“Happy Birthday”
Iklan

3 pemikiran pada “Killing The Misinterpretation in 250 Miles

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s